Refleksi: “Kecil Kecil Cabe Rawit”

0
2156

   Teringatlah saya akan pengalaman yang sering dijumpai sewaktu masih kecil. Pada saat makan oraang tua saya selalu berkata, “Sadiki jo tu rica. Nda usah banya-banya.” (Sedikit saja cabainya. Jangan terlalu banyak). Orang tua saya tak mau saya kepedesan karena banyaknya cabai yang dimakan. Akan tetapi, meski yang diambil hanya sedikit tetap saja rasanya pedas. Benarlah ungkapan yang sering didengar, “kecil-kecil cabe rawit.” Maksudnya apa?

   “Kecil-kecil cabe rawit.” Saya berefleksi. Dalam hidup ini banyak sekali hal-hal yang dianggap kecil padahal bisa saja berdampak besar. Hal-hal kecil itulah yang sering kali tak saya hiraukan. Ketika berhadapan akan hal-hal yang kecil, yang terjadi adalah penundaan. Tak disadari, penundaan-penundaan itu yang membuat yang kecil menumpuk sehingga menjadi besar.

 “Dikit-dikit jadi bukit.” Misalnya saat mengerjakan tugas kuliah. Tugasnya toh belum dikumpul. Masih banyak waktu. Nanti dibuat kalau sesudah dekat waktu pengumpulan. Tak disadari tugas itu menjadi sangat berat dan hasilnya tidak maksimal karena ternyata ada tugas-tugas lain juga yang harus dibuat.

 Atau juga, saya sering meremehkan orang lain. Saya sering menganggap bahwa orang lain tidak bisa berbuat apa-apa, atau tidak bisa berbuat lebih dari saya. Sikap ini membuat saya jatuh dalam kesombongan dan pada akhirnya saya harus malu karena apa yang saya pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi.

   Yesus sendiri dalam Kitab Suci mengajarkan agar setia pada perkara-perkara yang kecil. Atau, dalam banyak hal orang yang dianggap kecil dalam masyarakatlah yang sering dipakai Yesus dalam karya-Nya. Siapakah murid-murid Yesus? Mereka bukanlah orang dari kalangan atas melainkan orang-orang sederhana.

Yesus juga menegur murid-murid yang menghalang-halangi orang-orang yang membawa anak-anak kepada-Nya. Terhadap hal ini Yesus berkata: “Biarkanlah anak-anak itu, janganlah menghalang-halangi mereka datang kepada-Ku; sebab orang-orang yang seperti itulah yang punya Kerajaan Surga.”

Saya juga berefleksi dari apa yang dilakukan oleh Allah dalam rangka penjelmaan-Nya menjadi manusia melalui Bunda Maria. Maria bukanlah siapa-siapa. Maria hanyalah gadis muda yang tidak juga memiliki jabatan yang penting dalam masyarakat. Akan tetapi, dari diri Marialah Allah menyatakan diri-Nya.

   Dari refleksi ini saya belajar untuk semakin setia dan tidak meremehkan hal-hal yang kecil. Meski kecil tapi bisa berdampak besar dalam kehidupan saya. Refleksi ini juga mengajarkan saya untuk tidak sombong. Saya semakin sadar bahwa saya ini hanyalah manusia biasa yang masih banyak sekali kekurangan. Namun dari kekurangan-kekurangan itu pula saya harus tetap berjuang dan bersyukur.

(Fr. Valentino Pandelaki)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini