“Arti Sebuah Ketulusan”: Renungan, Senin 15 Juni 2020

0
7676

Hari Biasa (H)

1 Raj. 21:1-16; Mzm. 5:2-3,5-6,7; Mat.5:38-42.

Ketulusan seringkali diartikan sebagai kebersihan hati, pun juga diartikan sebagai sebuah kejujuran. Dalam hidup, seringkali kita diperhadapkan dengan dua hal yang sangat bertolak belakang. Ketika bersikap tulus, seringkali dianggap tidak tulus. Juga ketika bersikap tidak tulus, malah dianggap tulus. Entah mengapa, karena mungkin ini soal rasa, soal kualitas dari pribadi seseorang sehingga amat sulit pula untuk menentukan nilai dari ketulusan itu sendiri.

Penginjil Matius menampilkan kisah Yesus yang memberikan khotbah di atas bukit. Ada banyak hal yang disampaikan oleh Yesus. Apa yang disampaikan oleh Yesus bukanlah merupakan perkataan yang biasa-biasa saja, melainkan sebuah ajaran dalam kehidupan. Yesus memberikan ajaran mengenai bagaimana mempraktikkan kehidupan yang sesungguhnya. Injil hari ini lebih menampilkan ajaran dari Yesus berkaitan dengan sikap bagaimana harus memperlakukan orang lain sebagaimana memperlakukan diri sendiri.  Dan sikap itu nampak dalam penekanan akan sebuah ketulusan. “Berilah kepada orang yang meminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari padamu”(Mat. 5:42). Ketulusan merupakan bagian dari sikap mencintai dan mengasihi orang lain.

Dalam kehidupan kita, seringkali masih merupakan sebuah kesulitan untuk bertindak dan bersikap tulus kepada orang lain. Adakalanya kita memperlakukan orang lain dengan tidak wajar. Kita sering kali kikir dan tidak mau membantu sesama kita. Adakalanya kita sudah membantu orang lain, namun bantuan itu kita ungkit dan kita umbar kepada orang lain sebagai sarana untuk mencari muka dan memamerkan diri. Sikap-sikap ini sangat bertolak belakang dengan apa yang telah Yesus ajarkan kepada kita. Ketulusan untuk mengasihi masih amat jauh dalam kehidupan kita. Kita masih sulit untuk bersikap tulus karena kita masih terlalu mementingkan diri sendiri. Egoisme dibiarkan berkembang. Akibatnya, tidak ada lagi waktu untuk mengasihi dan mencintai, apalagi bersikap tulus. Mampukah kita bersikap tulus kepada orang lain?

(Fr. Sebastian Manorek)

“Dan siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil”(Mat. 5:41).

Marilah berdoa:

Ya Yesus, buatlah kami mampu bersikap tulus kepada sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini