Ketika menulis refleksi ini hati saya sedang galau, karena tiga hari lalu laptop saya hilang entah kemana. Sangat menyesal karena banyak dokumen penting termasuk file tugas-tugas kuliah. Jujur saja saya sangat sakit hati dan dalam hati saya memaki-maki si pencuri yang sampai sekarang masih belum diketahui. Siapa yang tidak marah dan jengkel kalau kehilangan barang yang penting? Sebagai manusia biasa wajar saja kalau marah.
Namun ketika membaca bacaan Injil Mrk. 3:22-30, saya disadarkan. Dalam Injil Yesus menegaskan bahwa hujatan anak-anak manusia masih bisa diampuni, tetapi menghujat Roh Kudus adalah dosa kekal yang tidak dapat diampuni. Saya sedikit merefleksikan, apa artinya menghujat Roh Kudus? Sedangkan dalam buah-buah Roh dikatakan ada kasih dan damai sejahtera. Saya lalu bertanya dalam hati apakah wajar bahwa saya sakit hati terhadap pencuri yang mencuri laptop saya? Apakah wajar saya mengumpat dalam hati dengan makian karena kebencian terhadap pencuri itu?
Secara manusiawi hal itu sangatlah wajar. Tetapi akhirnya saya merenungkan bahwa kalau saya terus terbelenggu dengan suasana hati seperti ini, saya adalah penghujat Roh sang pembaharu dan sang penghibur itu, yang mengajarkan kasih dan damai. Melalui teman-teman frater Roh Kudus berkarya, saya dihibur dan dikuatkan oleh mereka. Jika saya tidak mau keluar dari suasana hati seperti ini dan mulai lembaran baru, saya menolak Sang Pembaharu itu. Berarti saya adalah sahabatnya Iblis. Jadi jika saya mau menerima Roh Kudus dalam hidup saya, saya harus keluar dari masalah ini. Bagaimana saya mau dihibur dan diampuni kalau tidak mau bertobat?
Yesus dalam Injil sangat menggugah hati saya. Walaupun dihujat dan difitnah, Ia tetap menghadapi itu semua dengan tenang dan sabar. Keberhasilannya mengusir setan ternyata tidak mendapat pujian dari dari semua orang. Ada yang menerimanya dengan ucapan syukur, tetapi ada pula yang menghujat dan bahkan memfitnah-Nya. Perbuatan baik ternyata tidak selalu berbuah manis.
Ada ungkapan yang mengatakan, “Ketika berani mencintai seseorang berarti siap menerima bencinya juga”. Perbuatan Yesus sebenarnya mau membantu dan membahagiakan orang. Tetapi apa yang dilakukan Yesus dibalas dengan begitu jahat. Mereka memfitnah-Nya bersekongkol dengan Beelzebul sang pangeran setan. Sikap Yesus ini begitu menggugah hati saya yang galau ini. Kodrat kemanusiaan-Nya tidak menunjukkan sikap marah, emosi, sakit hati, apalagi kebencian terhadap orang-orang yang memfitnah-Nya itu. Tetapi dengan sabar dan tenang Yesus menghadapi fitnaan itu. Tidak dengan suara keras tetapi dengan lembut hati. Tuhan Yesus, jadikanlah hatiku lembut seperti hati-Mu. Amin.
(Fr. Ignatius Kisa)











