Hari Minggu Biasa II (H)
Yes. 62: 1-5; Mzm. 96: 1-2a, 2b-3,7-8a, 9-10ac; 1 Kor. 12: 4-11; Yoh. 2: 1-11.
Saudara-saudari terkasih, kepada umat di Korintus Paulus berbicara tentang berbagai karunia dan pelayanan yang berasal dari satu Roh, untuk kepentingan bersama. Bacaan Injil menampilkan Maria sebagai ibu Yesus yang hadir di perjamuan nikah di Kana. Sebagai ibu, Maria hadir di pesta nikah itu bukan saja sebagai penikmat hidangan dalam perjamuan. Ia hadir sebagai seorang wanita dengan karakter seorang ibu. Seorang ibu yang penuh perhatian, peka terhadap situasi, memahami persoalan, dan tanggap serta cepat mengambil sikap dan tindakan. Ia hadir, berpesta dan melayani.
Ketika hadirin larut dalam kesenangan dan terbuai oleh kenikmatan pesta, Maria tetap sadar dan peka melihat kenyataan: “Mereka kehabisan anggur”. Maria peduli dan sebagai yang hadir, Ia merasa turut bertanggung jawab atas kebahagiaan keluarga yang mengundangnya. Ia mengetahui persoalan yang mengancam dan bergegas mencari solusi. Walaupun ia tidak memiliki kuasa untuk menyelesaikan persoalan, namun ia tahu kemana ia harus mencarinya. Demi kebahagiaan dan masa depan kedua mempelai, Ia datang kepada Yesus. Maria tahu dari semua hadirin, Yesuslah satu-satunya yang memiliki kuasa untuk memberi solusi. Kepada Yesus ia menyampaikan keprihatinan dan harapan serta permohonannya. Ia mengatakan kepada-Nya, “Mereka kehabisan anggur”.
Yesus mengingatkan bahwa segala sesuatu ada waktunya, “Saat-Ku belum tiba!” Bunda Maria yakin saat itu akan tiba bila manusia datang dan membuka diri kepada Tuhan yang hadir. Bunda Maria tahu dan percaya bahwa Yesus adalah Allah beserta manusia (Imanuel) dan Ia hadir untuk keselamatan manusia. Yesus hadir di pernikahan itu demi kedua mempelai, dan Maria percaya kehadiran-Nya dapat menjadi keselamatan bagi mereka. Itulah arti paling besar dari kehadiran Yesus di antara manusia, bukan untuk menikmati (dilayani) tetapi untuk menyelamatkan (melayani). Setiap anugerah adalah untuk pelayanan.
Demi menunjukkan arti terbesar dari kehadiran Yesus itulah, Maria sebagai ibu, dengan keyakinan teguh menasihatkan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah!” Seturut nasihat bunda Maria mereka menuruti perintah Yesus, mengisi enam tempayan dengan air. Ketaatan kepada nasihat seorang ibu beriman dan bermohon, membuat mereka menyaksikan keselamatan terjadi di tengah keluarga. Yesus mengubah air menjadi anggur demi keselamatan dan kebahagiaan keluarga yang mengundang-Nya.
(Pst. Julius Salettia, Pr)
“Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah!” (Yoh. 2:5)
Marilah berdoa:
Bunda Maria, doakan kami agar setia melaksanakan perintah Putera-Mu, maka selamatlah kami. Amin.











