Setiap kali kita mendengar kata salib, secara spontan pikiran kita langsung terarah pada kisah sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Oleh karena itu, salib digambarkan sebagai suatu pengalaman penderitaan. Salib bagi sebagian orang bukanlah menjadi impian. Bahkan salib merupakan hal yang ingin dihindari, karena pada dasarnya tidak ada manusia yang ingin hidup menderita.
Sebagai pengikut Kristus, Salib tidak dapat dihindari, karena setiap manusia mempunyai salibnya sendiri dengan pengertian dan tingkatan yang berbeda. Derita adalah pengalaman eksistensial manusia. Derita menyatu dengan eksistensi manusia yang tampil dengan keterbatasan, kekurangan dan kelemahan tertentu. Penderitaan pada umunya begitu biasa dalam kehidupan sehari-hari. Makhluk hidup khususnya manusia dan hewan primata bisa merasakan sakit dan mengekspresikan kesakitannya, namun hanya manusia yang mampu untuk memaknai penderitaannya. Penderitaan dialami sebagai fakta eksistensial dan sekaligus membuka pintu pada masa depan. Inilah yang dinamakan pengharapan. Dalam pandangan itu seorang penderita yang beriman terbuka secara personal kepada Allah, mengalami kekuatan, dan sanggup memberi makna kepada penderitan yang dialaminya.
Dengan memaknai penderitaannya, orang beriman akan tahu bahwa Allah solider dengan manusia. Bentuk dari solidaritas-Nya adalah dengan mengaruniakan anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Yesus adalah anak tunggal Allah yang dikaruniakan kepada manusia. Ketika Ia solider dengan manusia, maka solidaritas-Nya itu memampukan manusia untuk mengalami transformasi dari dalam yang disebut dengan kata-kata: ditebus, diselamatkan dan dibebaskan dari dosa dan maut.
Penderitaan salib Yesus menyatakan bahwa Dia adalah sahabat sejati, karena Dia memberi nyawa-Nya bagi manusia sebagai sahabat-sahabat-Nya. Demikian penderitaan salib Yesus menjadi simbol solidaritas surgawi, tanda kasih Allah yang melampaui segala keterbatasan. Dia datang dengan kasih-Nya yang tak terbatas dan tinggal di antara kita, menyertai kita bahkan dalam penderitaan. Itulah solidaritas Allah bagi dunia walaupun dunia tidak selalu mengenal dan menerima Dia.
Paham tentang penderitaan salib sebagai tanda solidaritas Allah dalam kasih-Nya kepada manusia dapat mendorong kita untuk mendekati mereka yang sedang dalam kemalangan dan penderitaan. Simpati dan empati kita akan dipertajam ketika kita mau membangun solidaritas dengan orang lain. Gagasan inti di sini ialah solidaritas sosial yang didahului oleh solidaritas ilahi. Setiap tindakan menegakkan keadilan sosial berakar pada keyakinan tentang solidaritas ilahi dalam pengalaman penderitaan salib. Maka, melalui tindakan solidaritas sosial kita bertemu dengan Allah yang turut merasakan segala kepahitan yang dialami manusia.
Fr. Reno Sondakh











