“Berapa kali saya harus mengampuni sesama?”: Renungan, Selasa 22 Maret 2022.

0
1637

Hari Biasa Pekan III Prapaskah (U).

Dan. 3:25,34-43; Mzm. 25:4b-5b,6-7c,8-9; Mat. 18:21-35.

Hal mengampuni termasuk salah satu sikap batin yang sulit untuk dilakukan. Sulitnya mengampuni merupakan pengalaman banyak orang dan mungkin kita menjadi salah satu dari orang-orang yang sulit untuk mengampuni. Salah satu faktor yang menyebabkan orang menjadi sulit untuk mengampuni adalah keberadaan diri. Ini bersentuhan langsung dengan aspek keberadaan diri sebagai pribadi. Orang sering berpikir bahwa tindakan mengampuni seakan-akan merendahkan kualitas harga diri sendiri.

Bacana-bacaan hari ini secara jelas mengkritik kita yang sulit mengampuni. Kritik itu  menunjuk dua sisi pribadi kita yang saling bertolak belakang bagaikan mata uang. Di satu sisi kita selalu memohon ampun kepada Allah dan Allah mengampuni kita. Tetapi di sisi lain kita sulit mengampuni sesama yang bersalah kepada kita. Pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang berapa kali kita harus mengampuni sesama, mewakili kita yang sulit untuk mengampuni.

Jawaban Yesus kepada Petrus tentang keharusan kita mengampuni sesama, menunjuk pada kewajiban kita untuk mengampuni. Hal mengampuni menjadi sebuah keharusan karena prinsip dasarnya adalah Allah telah lebih dahulu mengampuni kita. Pengampunan Allah tidak mengenal batas. Seorang raja yang menghapuskan hutang hambanya menggambarkan kebesaran belas kasih Allah asal kita mau datang kepada Allah dengan ketulusan dan keterbukaan hati sebagaimana yang dilakukan oleh Azaria dalam bacaan pertama.

Prinsip tidak mengenal batas inilah yang seharusnya menjadi sikap kita ketika berhadapan dengan orang yang bersalah kepada kita. Kita seharusnya tidak menghitung-hitung seberapa banyak saya mengampuni sesama. Jika kita mampu melihat ke dalam diri, dosa dan pelanggaran kita terhadap Allah tidaklah sebanding dengan kesalahan sesama terhadap kita. Memang sulit untuk mengampuni sesama yang bersalah, tetapi kita perlu ingat bahwa Allah selalu bersedia mengampuni kita apabila kita datang kepada-Nya.

Oleh sebab itu, masa prapaskah ini menjadi kesempatan bagi kita untuk melihat ke dalam diri sembari menyelami kebesaran belas kasih Allah yang mau mengampuni kita. Di samping itu, hari-hari ini menjadi kesempatan bagi kita untuk belajar mengampuni sesama karena Allah telah lebih dahulu mengampuni kita. Sebab dengan memohon ampun kepada Allah dan mengampuni sesama, kita menjadi layak untuk merayakan hari Paskah sebagai hari raya kemenangan.

(Fr. Alosius Gonsaga No)

“Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:21-22).

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, buatlah kami menjadi pribadi-pribadi yang saling mengampuni, seperti Engkau yang selalu mengampuni kami. Amin.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini