Refleksi: Kekuatan Sebuah Doa

0
3988

Dalam refleksi ini, saya akan membagikan kepada pembaca pengalaman berharga yang saya alami dalam jenjang hidup saya. Ketika saya berada di kelas tiga SMA Seminari SYT-Langgur, Saya bersama keempat teman seminaris kedapatan  memiliki dan menggunakan Handphone oleh pastor rektor. Hukumannya jelas  bahwa jika ada seminaris yang kedapatan membawa Henphone maka yang bersangkutan dikeluarkan dari seminari. Karena sudah mengetahui bahwa saya akan dikeluarkan dari seminari, maka saya menghubungi orang tua dan memberitahu mereka  peristiwa tersebut. Ketika orang tua mendengar  hal itu, respon dari bapa saya begitu kejam. Dia marah dan enggan berbicara dengan saya bahkan, dia menyangkal saya sebagai anaknya. Respon ibu saya begitu sedih dan bingung hendak mengatakan apa kepada saya. Namun untungnya ibu tidak menyangkal saya sebagai anaknya. Kalau sampai hal itu juga dilakukan ibu saya maka status saya saat itu pun berubah menjadi anak yatim-piatu.

Singkat cerita, rapat evaluasi penentuan pun berakhir. Empat seminaris lain yang kedapatan membawa HandPhone dikeluarkan. Ternyata saya tidak jadi dikeluarkan. Saya lantas mendapat panggilan khusus dari pastor rektor. Setelah menghadap, ternyata saya masih mendapatkan kesempatan kedua dari pastor rektor untuk tetap melanjutkan panggilan sebagai calon imam. Ketika mendengar hal itu, perasaan saya saat itu bahagia bercampur kebingungan. Bahagia karena saya akan kembali memiliki seorang bapa dan bingung karena tidak mendapatkan jawaban dan alasan kenapa saya masih diberi kesempatan. Setelah berita bahagia ini saya terima, saya melanjutkannya kepada ibu saya. Sebenarnya kepada bapa saya juga namun karena bapa saya masih tidak mau berbicara maka saya hanya menyampaikan kepada ibu.

Setelah berita bahagia itu saya sampaikan kepada ibu, tiba-tiba ada kalimat yang keluar dari mulut ibu yang membuat saya terkejut. Bunyi kalimat itu demikian, “Puji Tuhan, mama punya novena tiga kali Salam Maria terkabul”. Mendapatkan pengalaman demikian, membuat saya berefleksi bahwa doa itu mempunyai daya pengubah. Daya yang saya sebut sebagai kekuatan. Dalam hal ini saya tidak ingin menyebut bahwa doa itu dapat mengubah segala sesuatu. Namun yang jelas dalam doa banyak hal bisa terjadi. Bagi saya doa itu bukan dilihat dari siapa yang berdoa atau kepada siapa kita berdoa, namun seberapa tulus doa itu disampaikan. Mengenai hal ini, saya meyakini satu hal bahwa karena ketulusan doa dari ibu sayalah maka doa yang ia sampaikan memiliki daya pengubah atau kekuatan. Dan karena kekuatan itulah maka dalam doanya sesuatu terjadi.

(Fr. Stanislaus Sainyakit)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini