Refleksi: “Memberi Tanpa Melihat Sebuah Titik”

0
3101

Menerima adalah berkah dan memberi adalah anugerah. Prinsip inilah yang selalu saya pegang sampai sekarang. Saya yakin bahwa ketika kita memberi sesuatu, maka kitapun akan mendapat sesuatu. Alangkah indahnya jika kita memberi bukan hanya sekedar kewajiban, melainkan menjadi kebiasaan. Sebab makna kehidupan bisa kita rasakan bukan dari berapa banyak yang telah kita dapatkan, tetapi dari berapa banyak yang telah kita berikan. Saya yakin, bahwa jika kita memberi bukan berarti mengurangi milik atau bahkan rugi, melainkan menjadi sebuah investasi untuk hidup di akhirat nanti.

Ada begitu banyak orang ketika diperlihatkan sebuah kertas putih polos dengan setitik tinta hitam di tengahnya, hanya akan fokus melihat titik tersebut dan bukan kertas putih yang jauh lebih dominan dari pada titik kecil. Itulah mengapa manusia hanya cenderung melihat sedikit kejelekan daripada melihat banyaknya kebaikan. Orang hanya fokus pada sedikit keburukan yang dibuat seseorang, sampai lupa bahwa orang tersebut pernah melakukan ribuan kebaikan untuknya. Hal inilah yang terkadang menjadi faktor utama mengapa orang tidak mau memberi untuk sesama. Yesus mengajarkan kepada kita sebagai umat beriman untuk saling memberi kasih. Kasih itu bisa kita wujud-nyatakan melalui tindakan memberi, baik itu berupa materi ataupun doa kepada sesama kita yang membutuhkan.

Kita jangan takut dengan besar atau kecilnya jumlah yang hendak diberi, tetapi seberapa bernilainya keikhlasan yang kita punya. Namun lepas dari pada itu semua, saya tahu dan sadar bahwa sayapun masih sulit untuk memberi. Terkadang muncul dalam pikiran saya “saya saja kurang, kenapa harus memberi?” Begitulah saya sering membela diri. Tentu ini adalah anggapan yang salah, sebab bertentangan dengan ajaran Kristus. Kristus mengajarkan kepada kita untuk tetap memberi walau berkekurangan. Meskipun demikian, semua hal baik itu bisa saya lakukan jika saya usahakan. Mungkin selama ini saya kurang berusaha untuk mewujudkan hal-hal yang baik itu. Saya masih terlalu mementingkan diri sendiri tanpa melihat sesama yang mungkin berkekurangan. Oleh karena itu, saya akan terus berdoa dan terus berusaha untuk tetap memberi tanpa memandang sebuah titik kecil pada sesama.

Akhirnya, saya berharap semoga kita semua sebagai umat beriman tetap membudi-dayakan memberi, sebagai tolak ukur ajaran Kristus kepada kita. Sebab memberi adalah anugerah dari Tuhan. Kita mesti sadar bahwa apa yang ada pada kita adalah milik Tuhan. Ketika kita membagikan milik Tuhan yang ada pada kita sebagai titipan itu, maka dengan demikian kita pun membagikan kasih Allah terhadap sesama kita.

(Fr. Andre Talia)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini