Menjadi seorang yang terpanggil memang sulit. Seorang yang terpanggil harus setia, berintegritas, jujur, dan penuh semangat dalam menjalani panggilannya. Saya adalah orang yang sementara berproses dan berprogres dalam hal itu. Memang sangat sulit, tapi akan lebih sulit dalam hidup jika saya tak menerima dinamikanya demi kehidupan panggilan saya ke depan. Maka panggilan ini mulai dijalankan ketika saya ingin menempuh tahap baru menjadi seorang seminaris. Sepupu saya pun memperkenalkan Seminari Kakaskasen dan menjelaskan letak tempat, situasi dan kondisi seminaris. Tahap itupun akhirnya telah ditekadkan, dan saya masuk seminari.
Singkat cerita, saya menjalankan rutinitas harian sebagai calon imam atau seminaris pada waktu di Seminari Kakaskasen. Rutinitas yang kadang membosankan membuat saya terdorong untuk mengembangkan bakat lewat alat musik. Akhirnya dari titik itu saya mulai menyadari, bahwasanya bagaimana saya bisa menyukakan hati dan melayani Tuhan dengan baik? Dengan cara apa yang harus ku perbuat untuk menyatakan kasih-Nya kepada umat? Maka dengan melatih diri menjadi violinist yang cukup mahir adalah buah dari pertanyaan refleksi itu.
Berjalan waktu hingga menjadi seorang frater dan sebagai seorang violinist, hal terbesar dalam melayani Tuhan dengan lagu ialah mempopulerkan ibadat Taize di kalangan umat. Doa atau ibadat Taize adalah salah satu bentuk ibadat kontemplatif dan meditatif. Secara personal, Taize dapat mendekatkan diriku dengan Tuhan melalui doa, renungan dan lagu-lagu yang merdu. Akan merasa sedih dan gurau jika dalam pelayanan, umat hanya menyepelekan ibadat Taize dan merasa bahwa ibadat ini sungguh membosankan, karena durasi yang lama. Maka jalan keluar satu-satunya ialah pendekatan secara real dengan menggunakan berbagai cara semenarik dan sebagus mungkin sehingga orang yang mengikuti ibadat ini sungguh-sungguh merasakan akan kehadiran Tuhan lewat ibadat Taize.
Akhirnya, dalam hati kecil yang dalam, saya melayani Tuhan dan sesama tentunya dengan apa adanya serta tak berbeban hati. Walau banyak menyita waktu karena harus keluar dari seminari tapi semua pahala dan balasan dari Tuhan pasti akan saya dapatkan. Menjadi pewarta ibadat Taize adalah kegiatan rohani yang menggembirakan. Saya berkata menggembirakan karena bisa bersama umat bersyukur kepada Tuhan. Lebih dari itu, saya merasa semakin dekat dengan Tuhan. Hidup dekat dengan-Nya memampukan diri saya dalam menjalani tugas dan tanggung jawab sebagai seorang terpanggil.
(Fr. Dirros Pugon)











