Refleksi: “Di manakah Letak Jalan Kebenaran?”

0
2525

Orang buta tidak dapat melihat bentuk, warna, tekstur atau gerakan, apalagi isyarat yang lembut atau mimik wajah. Sama halnya dengan orang yang kurang memperhatikan kehidupan rohaninya, tidak dapat  melihat misteri atau karya Allah di dunia. Ia tidak dapat melihat misteri atau karya Allah dengan pasti dan tepat. Baginya semua itu kabur atau bahkan sama sekali tidak terlihat. Mata hatinya telah tertutup oleh sikapnya yang angkuh.

Cinta diri yang berlebihan telah membutakan mata hati, sehingga tidak bisa lagi melihat apa yang seharusnya tersedia bagi kita. Kita selalu membayangkan bahwa pandangan atau pendapat kita itu selalu tepat. Tanpa keragu-raguan kita meyakini hal tersebut walau pada kenyataannya tidak mengenai sasaran sama sekali. Lebih memalukan lagi, berbuat seolah-olah hanya kitalah yang bijaksana dan paling benar, paling sempurna di antara yang lain, sehingga dengan seenaknya selalu menyalahkan orang lain. Kita telah lupa, bahwa sebenarnya di mata Tuhan manusia hanya setitik debu dan tidak lebih dari itu. Kita bukan apa-apa bahkan tidak bisa menjadi apa-apa.

Satu-satunya jalan untuk berubah dan kembali pada kebenaran yakni hanya terdapat pada sikap rendah hati kita untuk kembali menempuh perjalanan rohani. Dengan menempuh perjalanan rohani ini, maka dengan sendirinya kita akan tahu dan mengerti bahwa selama ini kita mempunyai penglihatan yang salah. Bagi kita umat kristiani, kehidupan rohani adalah satu hal yang begitu penting, bahkan ini adalah keutamaan kita sebagai anak-anak Allah. Perjalanan hidup kita akan terasa hampa jika kita melupakan kehidupan rohani kita, suatu kehidupan yang mana jelas-jelas membawa kita pada jalan keselamatan. Kita hanya mampu mengenal diri kita, sesama dan jalan kehidupan, jika mau membuka diri dan membiarkan hati didiami oleh Tuhan.

(Fr. Relly Ndana)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini