Refleksi: “Antara Dilema dan Harapan”

0
2255

Panggilan bukan soal keyakinan, ‘saya yakin bahwa saya dipanggil dan saya yakin bahwa saya akan dipilih!’ Keyakinan itu akan sia-sia jika tidak ada sesuatu yang mendorongnya dari dalam; sesuatu itulah yang disebut motivasi. Panggilan adalah pilihan. Setiap orang tentu dipanggil untuk tugas dan tanggung jawab yang berbeda-beda, namun tugas dan tanggung jawab tak ada artinya jika tidak disertai dengan pilihan.

Pilihan yang dimaksudkan, yakni menyangkut kemampuan. Apakah saya mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab saya? Apakah saya bisa bertahan sampai akhir? Meski di setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Itulah sebuah pilihan yang secara sadar dan bebas menentukan mana yang terbaik untuk dirinya, keluarganya dan juga orang lain, serta secara khusus bagi Tuhan sendiri.

Saya selalu teringat akan pesan dari paman saya ketika hendak mengikuti masa pembinaan di Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng yang diawali dengan masa pembinaan rohani di Seminari Tahun Orientasi Rohani Tateli. Beliau berpesan kepada saya dengan sebuah perumpamaan. Menjalani panggilan itu ibarat saya sedang mendayung sampan menuju suatu tempat. Ketika sampai di tengah laut, terjadi badai dan angin ribut. Kini saya diperhadapkan dengan dua pilihan, apakah saya meneruskan perjalanan itu atau kembali?

Dua pilihan ini memiliki konsekuensi tersendiri. Ketika saya memilih untuk tetap meneruskan perjalanan, maka pastilah saya akan ada dan siap berhadapan dengan lautan lepas dengan deru ombak yang kian kencang. Namun ketika saya kembali, tentu saya tidak dapat mencapai tujuan saya. Tentunya perumpamaan ini membuat saya benar-benar dilema dan muncullah beribu-ribu pertanyaan dalam diri saya, apakah saya mampu? Apakah saya bisa?

Setelah menjalani panggilan ini, secara perlahan-lahan saya dapat menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu, meski dinamika itu sering membuat saya dilema untuk lanjut atau mundur. Ternyata untuk mencapai tujuan sebenarnya sangat mudah, tergantung kepercayaan dan iman dalam diri setiap pribadi. Dengan demikian, menjalani panggilan, sebenarnya mudah meski banyak tantangan dan cobaan, tergantung dari masing-masing pribadi mau menjalaninya dengan model seperti apa.

Sebagai orang yang dipanggil secara khusus atau tidak, badai dan angin topan sebenarnya bukan menjadi suatu penghalang, melainkan sebagai sebuah tantangan untuk dihadapi. Tuhan telah memangil saya, saya yakin Ia tidak akan meninggalkan saya. Dengan demikian, saya siap menghadapi segala tantangan dan cobaan karena saya ingin mengikuti Dia secara konsekuen.

(Fr. Martinus Nifanngelyau)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini