Tak jarang, kita merasa harga diri kita diserang bila seorang menolak nalar kita. Begitulah yang saya alami sebagai seorang calon imam diosesan di Seminari Tinggi Hati Kudus Yesus Pineleng dan sebagai seorang mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng (STFSP).
Aktivitas intelektual melalui pendidikan dan pembinaan yang diterapkan sungguh terasa padat. Saya menyadari bahwa secara perlahan mulai terbentuk sebuah habitus kesombongan berpikir seseorang terhadap mereka yang berpandangan berbeda.
Saya merasa, sulit bagi kita untuk memahami mengapa orang tidak setuju dengan analisis atau rencana yang kita anggap masuk akal. Karena itu, bukannya kita bersikap luwes, justru kita lebih suka melawan mereka yang keras kepala dan lebih menyukai gagasan mereka sendiri. Mengatasi kendala ini dapat menimbulkan masalah.
Kita melihat orang lain dengan gagasannya sebagai sebuah rintangan yang menghalangi pemikiran kita yang benar. Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita pun mungkin bersikap sama terhadap mereka. Kita mungkin tidak pernah menyadari bahwa mereka pun merasa berada di pihak yang “benar”. Akhirnya, semangat kita padam akibat beban sikap negatif yang dikaitkan pada motivasi mereka. Dan apabila semangat kita padam, harga diri pun turun.
Tanpa mengorbankan integritas, kita dapat menjadi manusia yang lebih jujur dengan bersikap lebih fleksibel. Kebenaran kita, betapa pun benarnya, bukanlah satu-satunya kebenaran yang ada. Penalaran kita yang absah dan tampak begitu jelas, namun bukan berarti merupakan jalan satu-satunya untuk mencapai tujuan yang kita inginkan.
Kita berhak mengutarakan gagasan kita. Begitu pula dengan orang lain. Oleh karena itu, tidak ada salahnya menyetujui ketidaksepakatan atas apa yang dipikirkan orang lain dan tidak ada alasan juga untuk menonjolkan harga diri kita dengan wawasan yang kita miliki setiap terjadi perbedaan pendapat.
(Fr. Fenansius Ngoranmele)











