“Dasar Iman”: Renungan, Selasa 17 Juli 2018

0
2829

Hari Biasa (H)

Yes. 7:1-9; Mzm. 48:2-3a,3b-4,5-6,7-8; Mat. 11:20-24.

Adalah benar untuk mengatakan bahwa untuk mempercayai sesuatu kita membutuhkan pembuktian. Hal ini bisa dibuktikan lewat realitas kehidupan kita sehari-hari. Misalnya, jika seorang lelaki mengungkapkan perasaan cintanya pada seorang wanita pastilah wanita tersebut membutuhkan pembuktian atau jika seorang teman mengatakan bahwa kita memenangkan undian maka pembuktian adalah hal yang pertama diminta.

Demikianlah pembuktian menjadi landasan kepercayaan. Memang berat bagi kita untuk mempercayai sesuatu tanpa bukti. Hal ini menghantar kita pada pertanyaan “apakah pembuktian merupakan syarat untuk percaya?” Atau apakah sikap ini cocok diterapkan dalam hidup keberimanan kita?”

Bacaan Injil hari ini mengingatkan kita bahwa pembuktian bukanlah satu-satunya syarat untuk percaya. Mengenal dan mengalami rencana keselamatan Allah tidak cukup dibangun atas dasar pembuktian. Iman akan Allah Yang Mahakuasa tidak dapat ditopang hanya lewat pembuktian saja. Dibutuhkan lebih dari sekedar bukti untuk berjalan dalam terang keselamatan.

Yesus mengecam beberapa kota karena sikap keras hati mereka. Mereka tidak mau kembali kepada pertobatan kendatipun kepada mereka dinyatakan belaskasih Allah lewat mujizat-mujizat yang dibuat Yesus. Kepada mereka Allah telah menunjukan kemahakuasaanNya dan kepada mereka Allah telah menyatakan kemuliaanNya, akan tetapi semuanya tidak berarti apa-apa bagi mereka. Hal tersebut terjadi karena hati mereka telah menjadi keras. Hati mereka telah buta pada kasih Allah. Hati mereka telah tertutup oleh dosa.

Demikianlah bukti bukanlah dasar untuk percaya kepada Allah. Keterbukaan hatilah yang menjadi syarat untuk percaya dan berjalan dalam terang kasih Allah. Keterbukaan hati menghantar orang pada iman kepada Allah yang hidup. Keterbukaan hati memampukan manusia untuk mengalami belas kasih dan kerahiman Allah.

Sesungguhnya dalam hidup ini kepada kita telah dinyatakan begitu banyak bukti. Nafas kehidupan, kesehatan, keluarga, sahabat, pekerjaan, cinta dan kepedulian tidak lain merupakan sebagian kecil dari litani mujizat yang kita alami sehari-hari. Lebih dari itu kehadiran Allah dalam hosti yang kita terima dalam perayaan Ekaristi merupakan mujizat terbesar yang boleh kita alami. Ekaristi menjadi pembuktian dan mujizat yang sungguh-sungguh besar karena itulah bukti pemberian diri Allah bagi kita semua. Tentang itu semua rupanya persoalannya tinggal satu, sudakah kita membuka hati atas rahmat Allah tersebut?

(Fr. Reynaldo Yohanes Tirayoh)

“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mujizat-mujizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. (Mat.11:21)

Marilah Berdoa:

Ya Allah, bantulah kami untuk membuka hati kami pada karya keselamatanMu. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini