“SABAT SESUNGGUHNYA”: Renungan, Sabtu 9 September 2023

0
963

Hari Biasa (H)

Kol. 1:21-23; Mzm. 54:3-4,6,8; Luk. 6:1-5

Hari sabat bagi orang Yahudi adalah hari dimana setiap orang berhenti dari pekerjaan dan aktivitas lainnya. Sebab sabat adalah hari yang dikhususkan bagi Tuhan, hari dimana setiap orang memfokuskan diri kepada Tuhan dengan berdoa kepada-Nya. Begitu juga dengan orang Farisi, sabat adalah hari untuk berhenti dari pekerjaan/kegiatan lainnya. Hal ini mereka lakukan sebagai suatu ungkapan kesetiaan mereka terhadap hukum Taurat. Karena itu orang Farisi mengkritik para murid Yesus yang tidak menjalankan hukum Taurat atau melanggar aturan hari sabat dengan memetik gandum dan memakannya.

Dalam Injil hari ini,  menampilkan suatu peristiwa yang terjadi pada hari Sabat ketika Yesus dan para murid-Nya sedang berjalan melalui ladang gandum. Para murid-Nya merasa lapar dan mereka memetik beberapa bulir gandum dan memakannya. Tindakan ini menimbulkan pertanyaan dan keberatan dari beberapa orang yang melihatnya, karena mereka menganggapnya melanggar hukum Sabat. Namun, Yesus dengan bijaksana menanggapi mereka dengan kata-kata yang penuh hikmat. Yesus membandingkan Tindakan yang dilakukan oleh para murid dengan Tindakan Daud. Ia mengingatkan mereka akan apa yang terjadi pada Daud. ‘’Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikan kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti tidak boleh dimakan kecuali oleh para imam-imam?” (Luk.3-4). Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuan atas Sabat.

Melalui peristiwa ini, Yesus ingin mengajarkan kepada kita suatu pelajaran yang sangat penting. Ia ingin mengingatkan kita tentang prioritas yang sebenarnya dalam hidup kita, yaitu pengertian yang benar tentang hukum-hukum Allah dan nilai-nilai kerajaan-Nya. Ia menginginkan agar kita tidak terjebak dalam legalisme yang membatasi pemahaman kita tentang kehendak Allah. Ketika Yesus memperbolehkan murid-murid-Nya untuk memetik gandum pada hari Sabat, Ia menunjukkan bahwa hukum-hukum Allah tidak boleh membuat kita menjadi kurang belas kasihan atau tidak peka terhadap kebutuhan sesama. Hukum-hukum tersebut haruslah dihayati dalam kerangka kasih dan belas kasihan. Ia ingin mengajarkan kepada kita bahwa ketaatan terhadap Tuhan tidak hanya terkait dengan peraturan formal, tetapi lebih penting lagi adalah sikap hati yang penuh dengan kepekaan terhadap sesama.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita dihadapkan pada situasi yang membingungkan, terutama ketika kita mencoba mengamalkan nilai-nilai Injil di tengah-tengah dunia yang serba sibuk dan kompleks ini. Kita mungkin menghadapi situasi di mana hukum-hukum moral kita tampak bertentangan dengan kebutuhan-kebutuhan praktis. Dalam konteks seperti itu, kita harus selalu mengingat bahwa inti dari ajaran Yesus adalah kasih. Kasih yang diajarkan oleh Yesus mengajak kita untuk mengedepankan perhatian terhadap sesama, kepedulian kepada yang lemah, dan pemberian yang tanpa pamrih.

(Fr. Bonifasius sola)

“Anak manusia adalah Tuhan atas hari sabat”. (Luk. 6:5)

Marilah berdoa:

Ya bapa, mampukanlah hati kami untuk lebih peduli kepada sesama. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini