Pesta Kelahiran SP Maria (P).
Mi.5:1-4a atau Rm. 8:28-30; Mzm. 13:6ab,6cd; Mat.1:1-16,1823 (panjang) atau Mat. 1:18-23 (Singkat)
Perjalanan hidup manusia tidak lepas dari sejarah. Setiap manusia memiliki kisah historisnya masing-masing. Dari pengalaman historisitas inilah manusia dapat mengenal dirinya terlebih istimewa mengenal karya keselamatan dari Allah dalam hidup setiap pribadi. Begitu pula dengan kelahiran Bunda Maria yang hari ini diperingati oleh Gereja. Dengan memperingati kelahiran Bunda Maria, Gereja tidak hanya memberi penghormatan khusus kepadanya. Namun lebih dari itu, Gereja ingin melihat karya keselamatan Allah yang terjadi lewat sejarah hidup Bunda Maria. Melalui kehadiran Bunda Maria, Gereja mengajak setiap umatnya untuk turut merasakan bahwa kasih Allah tak pernah berkesudahan tercurah bagi mereka yang mengasihi-Nya. Maria menjadi contoh bagi kita bagaimana ia sungguh-sungguh mengasihi Allah. Dengan kasih inilah, Allah pun menunjukkan kasih-Nya kepada Maria. Sebab dalam segala sesuatu yang mendatangkan kebaikan Allah turut bekerja. Orang-orang yang menghadirkan kebaikan seperti Maria inilah mereka ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan bahkan dimuliakan oleh Allah (Rm 8:28-30)
Peristiwa kelahiran Bunda Maria yang diperingati oleh Gereja menunjukkan Bahwa Gereja sangat mencintai dan menghormati Maria sebagai teladan hidup. Gereja ingin mengajak setiap putra dan putri Maria untuk mengambil bagian dalam cara beriman kepada Allah. Dalam bacaan-bacaan hari ini, terlebih khusus dalam bacaan injil ada dua sosok penting yang perlu diteladani oleh umat beriman. pertama, sosok Yusuf suami Maria. Dari St. Yusuf kita belajar bagaimana menjadi seorang yang tulus dan setia. Ia tetap tabah memilih Maria menjadi istrinya walaupun dalam keadaan mengandung sebelum dinikahinya dan tetap setia mendampingi Maria. Kesetiaan dan ketulusan hati inilah menjadi salah satu kunci dalam menunjukan cinta kita kepada Allah. kedua, kerendahan hati Maria. Maria dengan kerendahan hatinya, mau menerima tugas dan tanggung jawab yang besar dari Allah untuk mengandung dan melahirkan Sang Emannuel. Tugas dan tanggung jawab yang besar ini jika tanpa kerendahan hati, ketulusan dan kesetiaan kepada Allah bisa saja tidak bisa dilakukan oleh Maria dan Yusuf suaminya.
Sebagai Anak-anak Maria di zaman ini yang telah merasakan kasih Allah lewat karya keselamatan yang lakukan oleh Yesus Kristus Tuhan kita, kita pun dipanggil untuk terus menghadirkan kasih Allah kapan dan di mana pun kita berada. Semuanya itu dapat dilakukan jika kita sungguh-sungguh terbuka dengan rendah hati dan setia untuk mencintai Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita. sebab dengan kesetiaan dan kerendahan hati, kita pun dipanggil untuk menghadirkan kebenaran dan dengan demikian kita pun dibenarkan dan dimuliakan oleh Allah.
(Fr. Dkn. Relly Ndana)
“Mereka yang ditentukan Allah dari semula, mereka itu dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan oleh Allah ” (Roma 8:30)
Marilah Berdoa:
Tuhan tambahkan kepadaku hati yang tulus, hati yang setia dan terbuka untuk menghadirkan cinta-Mu.











