“Menasehati dalam Kasih”: Minggu, 10 September 2023

0
876

Hari Minggu Biasa XXIII (H)
Yeh. 33: 7-9; Mzr. 95: 1-2,6-7,8-9; Rm. 13:8-10; Mat. 18:15-20

Menasehati sesama saudara adalah tindakan yang istimewa, baik dan sangat penting dalam membangun dan memperjuangkan hubungan yang baik, akrab satu sama lain agar bisa hidup dengan damai dan bahagia. Ketika kita ingin menasehati sesama maka kita membutuhkan beberapa hal yang penting seperti: Pertama, Kita menggunakan komunikasi yang baik. Menggunkan komunikasi yang baik berarti berbicara dengan sopan dan lembut agar tidak menyinggung sesama kita yang membuat salah. Kedua, Jangan menghakimi mereka yang berbuat salah atau berbuat dosa, kita harus merangkul mereka dengan kasih sayang dan menasehati mereka dengan hati yang sabra, bukan dengan kritik yang bersifat menghakimi. Ketiga, saling menghargai, menghormati satu sama lain sebagai saudara dan tawarkan jalan keluar yang bisa mengubah hidup mereka. Perlakukanlah mereka yang berbuat dosa sebagai sesama kita yang mengimani Kristus dan merangkul mereka dalam kasih sayang untuk kembali kepada Kristus bukan bersikap keras dan menjahui mereka.

Bacaan pertama dari Yehezkiel, menunjukan kepada kita bagaimana peran dari orang-orang yang dipilih Allah untuk memberi nasehat kepada umat Allah untuk bertobat dan dalam surat Paulus, dikisahkan tentang Kasih. Kita dituntut untuk saling mengasihi sesama saudara kita walaupun banyak yang melanggar perintah Allah sebagaimana yang difirmankan yakni: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri dan lain-lain. Di sinilah kita semua diajak untuk saling mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Hal yang sama juga disampaikan oleh Injil hari ini. Matius mengajak kita semua untuk menasehati saudar-sadari kita dengan baik dan benar. Dikisahkan bahwa jika saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata dan jika dia mendengar maka engakau mendapatkannya kembali. Jika dia tidak mendengarkan maka panggilah dua orang lagi dan jika tidak mendengarkan lagi maka sampaikan kepada jemaat dan terakhir jika tidak mendengarkan lagi maka pandanglah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah.

Di sini sangtalah jelas bahwa manusia selalu menjahui Allah namun Allah tidak demikian. Allah sangat mengasihi kita semua dan selalu memberika kesempatan kepada kita untuk bertobat, bahkan kita selalu melanggar kehendak Allah tetapi Allah selalu membuka peluang agar bertobat dan kembali kepada-Nya. Allah tidak pernah ingin kita binasa maka Ia selalu memberikan kesempatan terus-menerus kepada kita untuk kembali kepada-Nya, kita sendirilah yang merasa paling hebat, sombong sehingga dengan berbagai cara kita selalu untuk mejahui Allah. Allah tidak pernah memksakan kita, malahan Dia selalu merangkul kita dengan kelembutan dan penuh kasih sayang untuk kemnali kepada-Nya tetapi kita yang keras kepala bahkan tidak menghiraukan-Nya. Maka, pada kesempatan yang istimewa ini kita semua diajak untuk saling mendoakan dan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri dan mencontohi Allah yang adalah kasih agar kita disempurnakan di dalam kasih-Nya dan diselamatkan.

(Redaksi)

“…kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!”.(Rm. 13: 9)

Marilah berdoa:
Ya, Yesus Kristus, ajarilah kami untuk mengasihi Engkau dan mengasihi sesama saudara kami. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini