Manusia sebagai person merupakan makhluk yang singular karena ia itu unik dan mempunyai ciri khasnya sendiri. Akan tetapi manusia juga makhluk plural yang terhubung dengan orang lain. Manusia sebagai person berarti manusia sebagai pribadi yang absolut. Manusia sebagai person juga berarti pribadi yang memiliki keunikan dan ciri khas sebagai seorang manusia. Jadi, manusia perlu untuk mengembangkan pribadinya dalam hubungannya dengan sesama dan Allah. Hubungan manusia dengan sesamanya dan Allah dapat terwujud dalam sikap solider. Manusia modern saat ini perlu untuk membangun sikap solider karena tuntunan zaman yang mengharuskan manusia untuk saling peduli satu dan yang lainnya.
Sikap melayani Allah dan sesama dalam arti solidaritas telah dipraktekkan oleh Yesus dalam kehidupan-Nya. Dalam kehidupan dan kebersamaan-Nya dengan umat manusia Yesus telah menunjukkan arti solidaritas yang sesungguhnya melalui keprihatinan-Nya kepada sesama. Keperihatinan-Nya kepada sesama telah dilakukan-Nya melalui tindakan penyembuhan dan menggerakkan umat manusia untuk bertobat agar kembali ke jalan yang benar (Mat. 9:35). Sikap solidaritas dari Yesus tentunya harus dapat dilaksanakan oleh umat manusia pada umumnya dan umat Katolik pada khususnya. Sikap melayani Yesus dan sesama dalam arti solidaritas dimulai dari kelompok-kelompok umat beriman yang membangun persekutuan umat Allah yang saling peduli satu dan yang lainnya. Tentunya dalam kehidupan sebagai umat beriman di wilayah rohani maupun dalam kelompok kategorial, kita diharapkan untuk dapat meningkatkan sikap solider di dalamnya. Sikap melayani ini tentunya dapat memperkuat iman kepercayaan kita dan membangun nilai kehidupan dan persaudaraan di tengah kehidupan bersama.
Yesus yang telah mengajarkan arti melayani dalam semangat solidaritas mengajak umat Allah untuk dapat mempraktekkannya. Dunia sekarang ini melayani dalam arti solidaritas sangat dibutuhkan, karena kadang kala kita sering disibukkan dengan pekerjaan sendiri sehingga tidak sempat untuk melihat saudara-saudari yang membutuhkan pertolongan dari kita. Oleh karena itu melalui refleksi ini kita diajak untuk membangun sikap solider dengan membangun persekutuan umat Allah yang memperhatikan kehidupan bersama yang dilakukan dengan cara saling membantu, saling menguatkan, meningkatkan sikap gotong-royong dan lain sebagainya. Masa pandemi covid-19 mengharuskan manusia untuk lebih meningkatkan hidup solider. Dalam artian manusia harus hidup dalam seperasaan dan seperjuangan. Bersama-sama seperasaan dengan sesama yang terserang virus corona dan seperjuangan memerangi virus corona dengan mematuhi protokol kesehatan (jaga jarak, cuci tangan dan memakai masker) yang telah dianjurkan oleh pemerintah.
(Fr. Petrus Ndemu)











