Refleksi: “Membangun Semangat Misioner Dalam Keluarga”

0
1690

Bagiku, benar jika dikatakan bahwa keluarga merupakan harta yang paling berharga. Tidak ada satupun di dunia ini yang dapat menggantikan  ayah, ibu dan saudara. Dalam keluargalah, aku dapat mengerti bagaimana mencintai, memberi dan mengampuni satu sama lain. Apabila aku mengingat kembali momen-momen indah dan menyedihkan yang pernah terjadi dalam keluarga, dapat disimpulkan bahwa memang tidak ada keluarga yang sempurna. Aku pun dapat mengalami  kesedihan, kekecewaan  bahkan putus asa ketika berada dalam keluarga.  Walaupun demikian, orang tua, adik-adikku tetap berharga bagiku.  Bagiku, keluarga yang sempurna adalah keluarga yang setiap anggotanya memiliki sikap saling mengampuni satu sama lain.

Pengampunan adalah sikap yang sangat penting dalam kehidupan berkeluarga. Tanpa pengampunan, keluarga itu tidak memiliki landasan yang kuat, sama seperti orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir yang sewaktu-waktu dapat hanyut terbawa banjir (bdk. Mat. 7:26-27). Cinta dan kasih sayang tak akan menjadi sempurna tanpa pengampunan. Keluarga adalah sel inti dalam seluruh aspek kehidupan.  Walaupun demikian, keluarga tetap memiliki  kekurangan. Oleh karena itu, ketika suami, istri dan anak-anak tidak ada keterbukaan hati untuk saling mengampuni, maka di situlah kita dapat menyaksikan celah-celah kehancuran suatu keluarga

Untuk menjadi keluarga Kristiani, pertama-tama kita perlu memiliki sikap saling mengampuni. Kita perlu belajar dari Tuhan Yesus sendiri yang adalah Mahapengampun. Pengampunan menjadi salah satu inti pewartaan-Nya. Itu bisa kita saksikan dalam kisah penyaliban-Nya, di mana Ia mengampuni dan mendoakan orang-orang yang menganiayaNya (Luk. 23:34). Dengan pengampunan, kita dapat membangun keharmonisan dalam keluarga. Keharmonisan akan terjadi ketika suami tetap mencintai istrinya dalam situasi apapun. Seberapa besar kesalahan yang dilakukan sang istri, ia tetap mencintai dan membimbingnya untuk kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Begitu pula sebaliknya.

Bagi sebagian orang, sikap mengampuni memang sulit dilakukan. Namun apabila kita mau terbuka dan belajar dari Yesus perihal mengampuni, di situlah kita menemukan kualitas hidup kita yang sesungguhnya. Keluarga kita akan menjadi sempurna. Keluarga kita akan memancarkan kasih Allah. Sebab pengampunan adalah dasar dan landasannya. Dengan saling mengampuni, keluarga akan menjadi surga yang selalu dirindukan ketika kita terpisah darinya. Keluarga akan  menjadi tempat ternyaman ketika hidup kita dalam kecemasan, karena di dalamnya kita menemukan cinta yang sempurna. Dengan kesempurnaan cinta yang kita miliki dalam keluarga, kita juga bisa memberikan cinta itu kepada semua orang.

(Fr. Efrianus Kaka Embu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini