Dosa kelambatan dan kemalasan “Kebiasaan?”

0
1554

Pada umumnya orang mendeskripsikan dosa sebagai ketidaktaatan manusia dalam relasinya dengan Tuhan. Entah bentuk ketidaktaatan itu dinyatakan dalam bentuk perkataan maupun tindakan. Akan tetapi sadar ataupun tidak sadar, seringkali kita berbuat dosa dalam praktik hidup sehari-hari di mana dosa itu dapat terjadi karena tau dan mau dari kehendak seseorang. Ketika seseorang sudah tahu suatu hal yang salah, tetapi ia hendak melakukannya maka hal itu disebut sebagai dosa. Dan praktik dosa yang lazim dilakukan adalah kelambatan dan kemalasan.

Lambat dan malas tentu bukanlah suatu hal yang asing lagi. Terkadang perasaan itu muncul tiba-tiba, sehingga secara manusiawi, setiap orang pasti merasakan dan mengalami berada pada titik hidup yang demikian. Hal ini dapat terjadi karena bisa saja dipengaruhi oleh dua faktor yakni faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berarti hal-hal di luar diri manusia, misalnya  dipengaruhi oleh lingkungan dan orang-orang sekitar. Sedangkan faktor internal berarti hal-hal yang muncul dari diri sendiri, misalnya bad mood, tidak ada niat dan tekad dalam diri untuk berusaha. Apabila hal ini dibiarkan terjadi terus menerus, maka dapat dipastikan bahwa eksistensi kita sebagai manusia direduksi sampai pada titik Shiftless. Maka benarlah kata pepatah: “salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah. Kalimat ini jika disederhanakan akan berbunyi demikian: kalau masih ada hari esok, mengapa harus sekarang? Lalu apakah benar kelambatan dan kemalasan itu bisa menjadi kebiasaan?

Berdasarkan pengalaman sehari-hari, tentu bisa saja kelambatan dan kemalasan itu menjadi suatu kebiasaan hidup. Hal ini bisa dilihat dari praktik hidup yang sederhana, misalnya terlambat misa pagi, terlambat kumpul tugas dan terlambat doa sore. Mengapa bisa terjadi? Pada dasarnya manusia tidak selalu melakukan hal-hal yang positif, pasti ada hal-hal negatif yang ingin dilakukan. Nah, hal-hal negatif ini seringkali meninabobokan manusia untuk bersikap acuh, malas tahu, menunda waktu dan kesempatan. Sehingga hal-hal baik yang bisa dilakukan akhirnya terabaikan begitu saja. Oleh karena itu lambat laun, hal tersebut menjadi suatu kebiasaan dalam diri.

Tentang hal ini, saya juga pernah mengalaminya bahkan juga terlena untuk terus melakukannya. Pada titik itu, saya kemudian merasa minder ketika melihat teman-teman lain berjuang dan berusaha untuk senantiasa rajin misa pagi, tepat waktu  dalam hal kumpul tugas, dan setia mengikuti jadwal harian seminari. Hal tersebut pada akhirnya membuat saya harus berkaca diri dan bertanya apakah saya bisa mengalahkan kelambatan dan kemalasan dalam diri? Setelah berefleksi atas sikap hidup yang demikian, saya ingin untuk sama seperti teman-teman lainnya atau bahkan bisa lebih dari itu. Saya yakin bahwa pengalaman adalah guru yang baik di mana hal-hal yang tidak senonoh dan konyol untuk dilakukan, saya kurangi pelan-pelan supaya tidak jatuh pada kesalahan yang sama

(Fr. Longginus Rumangun)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini