Refleksi: “Turut Merasakan dalam Kasih”

0
1529

Turut merasakan berarti ikut ambil bagian dalam segala sesuatu yang dilakukan oleh sesama. Hal ini mau menunjukkan bahwa turut merasakan itu juga adalah bagian dari solidaritas yang diungkapkan secara nyata. Berbagai cara dapat dilakukan dalam rangka ikut merasakan apa yang dialami oleh sesama. Saya mengatakan begitu karena tidak ada manusia yang paling sempurna di dunia ini. Apalagi manusia itu merupakan makhluk ciptaan yang tidak pernah lepas dari sesama manusia. Oleh karena itu manusia dinamakan sebagai makhluk sosial, di mana manusia tidak bisa hidup tanpa ada orang lain. Sehingga di sini mau ditekankan bahwa manusia itu harus saling berbagi satu sama lain baik suka maupun duka.

Salah satu program pembinaan yang diadakan oleh Komunitas Diosesan Seminari Tinggi Hati Kudus Pineleng khususnya tingkat dua yakni program martyria dan diakonia. Program ini merupakan salah satu bentuk atau cara agar kita bisa turut merasakan apa yang dialami oleh sesama. Program ini dilakukan bukan kepada orang yang sehat atau dalam keadaan baik-baik saja, melainkan kepada orang-orang yang mengalami cacat mental, sakit, dan yang sudah tidak mampu lagi berjalan atau sudah tua, misalnya di Panti Asuhan untuk orang-orang yang sudah lanjut usia, rumah sakit ataupun juga lembaga bagi anak-anak yang cacat mental (Sekolah Luar Biasa). Sehingga dengan begitu program ini bisa berjalan sesuai apa yang menjadi tujuan dibuatnya program ini. Saya sendiri menjalankan program diakonia-martyria ini di SLB (Sekolah Luar Biasa).

Kurang lebih dua hari menjalankan program diakonia-martyria di SLB, tinggal dan hidup diantara orang-orang yang cacat mental, ada begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan. Pengalaman yang saya dapatkan itu boleh saya katakan sebagai suatu pengalaman yang sangat penting dan berarti dalam hidup saya. Saya mengatakan demikian, sebab saya bisa melihat kehidupan orang-orang yang memiliki kekurangan yaitu cacat mental. Kehidupan mereka itu tergantung pada orang lain. Tanpa orang lain mereka tidak dapat hidup. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan karena saya bisa merasakan kehidupan yang normal. Namun juga bersyukur karena dengan program ini, saya bisa merasakan dan membantu mereka lewat doa dan lewat canda-tawa dalam rekreasi bersama dengan mereka. Hal yang paling berarti dalam hidup saya yakni saya bisa mengambil makna yang lebih dalam, di mana lewat program yang saya lakukan di SLB tersebut saya dilatih untuk setia dan sabar (nilai kesabaran dan kesetiaan).

(Fr. Frantosius Kadoang)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini