Refleksi: “Hidup Bagi Orang Lain”

0
2674

Dalam perjalanan hidup saya, melalui perjumpaan baik secara indrawi, intelektual, emosional dan spiritual, saya menemukan bahwa panggilan terdalam hidup manusia adalah hidup bagi orang lain. Keberadaan diri saya, pada hakikatnya adalah bukan untuk saya sendiri melainkan untuk orang lain.

Kehidupan yang sementara saya geluti di tempat pembinaan calon imam, merupakan suatu anugerah yang boleh Tuhan berikan kepada saya. Ada begitu banyak proses yang saya harus tempuh bersama dengan teman-teman sepanggilan. Hidup sebagai satu komunitas berarti hidup berdampingan dengan orang lain. Orang lain yang dimaksudkan ialah para staf pembina, karyawan-karyawati dan yang pasti ialah teman-teman frater.

Menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya karena boleh hidup bersama dengan orang lain, tetapi juga hidup bagi orang lain. Artinya bahwa hidup bagi orang lain ditandai dengan adanya relasi yang baik dengan sesama. Selain itu, ada tindakan sosial yang sejalan dengan cinta kasih. Bagi saya sendiri, hidup bagi orang lain, tidak berhenti pada sikap tetapi sampai pada tindakannya. Saya bermenung bahwa, dalam proses pembinaan dan pendidikan di Seminari Pineleng membuat saya semakin mampu untuk berelasi dan membantu orang lain.

Dengan adanya keutuhan antar sesama atau komunitas, justru menguatkan dan menyadarkan saya akan pentingnya hidup bersama, dalam artian saling menopang dalam panggilan. Tidak hanya persoalan pertemanan tetapi juga soal empati kita jika hidup sebagai satu komunitas. Setelah saya berefleksi dan bermenung, ternyata kita perlu membuka mata kita bagi orang lain. Kita tidak hidup sendiri dalam satu komunitas. Perlu adanya kerja sama yang saling membangun dan mendukung, agar setiap pribadi boleh menjadi orang yang benar. kita perlu saling mengingatkan akan kehidupan bersama. Jangan justru kita menjadi egois dan tidak mau membantu orang lain. Apapun itu, kita harus berani dan menyadari bahwa hidup bagi orang lain sangatlah penting.

Saya menyadari bahwa cinta yang Tuhan berikan kepada saya harus dibagikan lagi bagi orang lain. Karena Tuhan tidak memandang manusia secara perorangan. Ia memberikan ketulusan cinta bagi untuk banyak orang. Saya merasa bahwa inilah anugerah yang Tuhan berikan, tetapi juga tugas bagi saya untuk membantu orang-orang di sekitar saya. Jangan pernah kita merasa kecil, kita harus berani dan percaya diri dengan diri kita. Walaupun kita tak sama dengan orang lain tapi kita harus mengerti bahwa kita hidup di dunia, bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga untuk orang lain.

(Fr. Kani Lenak)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini