Menguak Empati Lewat Corona

0
1996

Virus Corona telah menjadi fakta serius akhir-akhir ini. Faktanya per 14 Februari 2020, 65.291 orang telah terinfeksi dengan 1.492 jiwa yang meninggal karenanya. Pada tanggal 18 Februari 2020 tercatat korban terinfeksi telah mencapai 72.000 kasus baru dan korban  meninggal telah mencapai 1.872 orang di seluruh dunia. Peningkatan angka kematian ini tentu sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak jika dalam sehari kurang lebih harus ada 100 orang yang meninggal karena virus corona ini.

Fakta di atas secara pribadi sangat menyita perhatian saya. Tak pernah terduga oleh saya bahwa pada saat ini virus itu telah mampu menyebabkan kematian hingga kurang lebih 100 orang dalam sehari. Angka kematian ini pastinya akan terus berkembang dalam setiap harinya. Corona menjadi realitas yang sungguh memukul seluruh dunia.

Kejadian ini memang tak saya rasakan secara langsung. Tetapi dengan melihat dan membaca beberapa berita, saya bisa membayangkan betapa meyedihkannya dan turut merasakan saudara-saudari kita yang pada saat ini berada dalam kekuatiran yang teramat dalam. Rumah sakit dipadati dengan pasien dan orang-orang yang datang untuk memeriksakan diri. Situasi pasti diwarnai dengan kecemasan. Bagaimana mungkin mereka tak merasa cemas. Mereka harus menyaksikan ratusan orang meninggal setiap harinya. Mereka bukan saja kuatir akan diri sendiri tetapi juga kuatir akan keluarga anak-anak, istri/suami dan keluarga yang lain.

Di tengah kegelisahan ini, akhir-akhir ini berkembang sesuatu yang aneh di tengah kita. Hal ini terjadi di media sosial di indonesia. Virus corona yang adalah ancaman terbesar untuk kehidupan  seluruh dunia malah hanya menjadi bahan lelucon bagi sebagian orang di indonesia. Banyak meme terkait virus corona yang kemudian diposting. Entah apa tujuannya mereka membuat itu. Untuk hiburankah? Caciankah? Sungguh, kenyataan ini sangat memulikan hati.

Hari di mana saudara-saudari kita merasa ketakutan dan berduka sat itu juga ada orang-orang yang selama ini berdiri di atas pancasila yakni prikemanusiaan yang kemudian menjadikan subjek  ketakutan itu sebagai lelucon. Patutkah hal sedemikian terus berkembang. Di mana hati nuranimu? Di mana simpati dan empatimu? dan di mana perikemanusiaanmu? Dengan berbuat demikian, adakah kontribusi penting yang bisa kita sumbangkan bagi mereka? Adakah hal demikian berguna?

Hal lain pun, ada yang bersimpati tanpa tindakan lanjutan. Sejatinya, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Yesus sendiri mengajarkan untuk mengasihi sesama. Lantas apakah yang bisa kita perbuat bagi mereka? Demikianlah pertama-tama tugas kita sebagai orang beriman untuk senantiasa mendoakan mereka dan bukannya mengejek, dsb. Hendaklah simpatimu disertai dengan empati.

(Fr. Suprianus Doliti)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini