Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu berhadapan dengan suatu pilihan. Tinutuan atau bakso, 01 atau 02, lanjut kerja atau istirahat dan berbagai pilihan lainnya. Tetapi sebagai seorang pengikut Kristus sangatlah penting jika kita mampu menentukan pilihan atara berdoa atau berdosa. Pilih mana berdoa atau berdosa? Pertanyaan ini menjadi pertanyaan refleksi yang bagus untuk kita semua. Dan yang terpenting adalah kemana pilihan kita akan membawa hidup kita. Apakah pilihan itu membawa hidup kita lebih dekat dengan Tuhan atau malah sebaliknya yaitu menjauhi Tuhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, saya pribadi seringkali memilih pilihan yang malah menjauhkan saya dari Tuhan. Sadar atau tidak seringkali kita manusia cenderung memilih untuk berbuat dosa dan menjauhi Tuhan. Dalam kehidupan panggilan di Seminari, seringkali saya tergoda untuk berbuat kesalahan: berbuat pelanggaran, menyakiti teman, egois dan banyak lagi kesalahan. Namun yang sangat fatal adalah ketika kita selalu saja menjatuhkan pilihan kita pada pilihan untuk berdosa atau menjauhi Tuhan. Rasanya seperti kita terus masuk di lubang yang sama dan terus terjerumus ke dalamnya.
Maka apa yang kiranya perlu untuk dilakukan? Saya berefleksi dan mendapati bahwa kita dapat melangkah melewati lubang dosa yang sama dengan suatu cara: yakni dengan berani menentukan sebuah pilihan baru yang Tuhan kehendaki, yakni berdoa. Dengan berdoa saya percaya Tuhanlah yang akan bekerja dan menyelesaikan segala perkara yang saya hadapi. Akhirnya dengan memilih untuk berdoa saya telah memilih untuk dekat pada Tuhan bukan malah menjauhiNya. Dalam berdoa, saya selalu menyadari kelemahan dan konsekuesi dari dosa. Maka semakin sering saya berdoa, semakin saya mantap, lancar dan nyaman dalam perjalanan saya mendekati Tuhan.
Mungkin ada yang berpikir bahwa “berdoa adalah sia-sia” atau “untuk apa berdoa?”. Situasi seperti itu sering saya hadapi. Tapi saya percaya, ketika saya berani mencari Tuhan dalam doa, saya akan menemukanNya, dan saya akan menemukan dimana Dia tidak pernah tidur, dimana Dia tidak pernah diam dengan penderitaan anak-anaknya. Tuhan selalu ada didepan perjalanan kehidupan saya dan memasuki lubang dosa demi saya, supaya saya selalu berjalan terus kedepan menggapai segala cita yang dikehendaki saya dan Tuhan saya Yesus Kristus.
(Fr. Delviano Kapele)











