Refleksi: “Per Aspera Ad Astra” (Melalui Kesusahan, Menuju Bintang)

0
3041

Ketika mendapat informasi bahwa saya tidak lulus Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Nulion, Kevikepan Luwuk Banggai, saya sungguh merasa terpuruk dan terpukul. Begitu besar kekecewaan dan kesedihan menerpa hati dan pikiran saya. Saya bahkan sempat marah dan kecewa dengan hal ini. Di tengah keterpurukkan, saya  kembali ke Manado. Saya singgah di Pastoran Luwuk dan kemudian bertemu dengan seorang imam. Lalu, imam itu men-sharingkan kehidupan panggilannya dulu sebagai seorang calon imam. Satu hal yang tidak dapat saya lupakan dari perjumpaan tersebut yakni kalimat dari pastor tersebut: “Frater, menjadi pastor itu bukanlah soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan dalam berbagai kesulitan hidup”. Kalimat ini terucap dari mulut seorang imam yang juga mengalami suka duka hidup panggilan dan bahkan harus sampai 6 kali menjalankan tahun diakonal.

Bukan hanya saya saja yang bergumul. Ternyata, ada orang lain juga yang pernah mengalami kesusahan yang bahkan lebih besar dari yang saya alami. Namun, ia mampu bertahan bahkan bisa mencapai imamat suci. Sungguh menjadi harapan tersendiri bagi saya. Saya harus akui bahwa  kalimat imam tersebut menjadi motivasi dalam perjalanan panggilan saya selanjutnya. Saya mengingat dan menelusuri kembali jejak panggilan yang berlika-liku. Saya mulai sadar bahwa menjadi imam bukanlah sebuah hal yang gampang. Selain itu juga, bukan sebuah hal yang otomatis bagi seorang calon imam. Panggilan menjadi imam adalah sebuah hal yang mesti diperjuangkan dengan sepenuh hati, jiwa dan raga. Tentunya harus bermuara pada rasa syukur atas kepercayaan sekaligus tanggung jawab luar biasa yang dianugerahkan Tuhan kepada saya.

Bagi saya selama 3 tahun menjalani masa Orientasi Pastoral merupakan sebuah masa dimana Tuhan sedang berkarya dan membentuk pribadi saya. Hal ini supaya saya kelak boleh layak dan pantas untuk menjadi imam-Nya. Sebuah bejana yang indah, tidak terbentuk begitu saja. Dia mengalami proses yang panjang yang bukan hanya satu kali mengalami perombakan. Saya menyadari bahwa itu jugalah yang terjadi dalam perjalanan panggilan saya. Suka duka hidup yang saya alami, jatuh bangun panggilan yang saya temui adalah sebuah proses pembentukan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Semuanya ini saya jalani sambil merefleksikan lebih dalam maksud dan rencana Tuhan untuk diri saya.

Saya bersyukur karena pada akhirnya boleh menyelesaikan masa TOP. Benar bahwa akan ada tantangan yang akan saya alami. Pasti suatu saat kesetiaan saya akan diuji. Akan tetapi, bahwa saya masih bisa bertahan dan setia sampai saat ini.  Itu merupakan berkat Tuhan dalam diri saya yang mesti disyukuri. Karena itu, benarlah apa yang dikatakan sang imam tadi, bahwa “menjadi imam bukanlah soal siapa yang paling cepat, melainkan siapa yang mampu bertahan dan tetap setia dalam panggilannya”. Tepatlah juga apa yang dimaksudkan peribahasa latin “Per Aspera, Ad Astra”. Suka-duka hidup panggilan yang dialami sedang menghantar saya menggapai impian hidup saya untuk menjadi seorang imam yang sejati kelak.

(Fr. Stevanus Micky Kojongian)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini