Sebagai manusia biasa, kita seringkali tergoda untuk melakukan hal-hal yang pada dasarnya dianggap tidak baik oleh orang lain. Namun, walaupun demikian kita tetap melakukannya. Saya pun pernah melakukan hal yang dianggap tidak baik oleh orang lain, yakni berjudi. Saya mulai berjudi saat berusia 16 tahun. Awalnya saya diajak oleh teman-teman di lingkungan saya untuk bermain judi. Saya pun tergoda dan mulai coba-coba untuk bermain judi. Akibat dari tindakan ini, saya pun sering dimarahi orang tua, menjadi malas membuat tugas sekolah, bahkan tidak bersemangat untuk mengikuti kegiatan hidup menggereja.
Singkat cerita, setelah selesai ujian akhir nasional saya bingung mau melanjutkan pendidikan saya. Sampai suatu ketika saya menceritakan hal ini kepada seorang pastor dan dia pun memberi suatu usulan kepada saya untuk mencoba masuk ke Seminari Xaverianum Ambon.Walaupun pada awalnya agak ragu-ragu, akhirnya saya pun menyetujui usulan pastor tersebut. Akan tetapi, keputusan saya untuk masuk ke seminari ini, sempat viral di lingkungan tempat saya tinggal. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah seorang penjudi cilik seperti saya dapat menjadi seorang pastor?
Saya pun hanya diam bila ditanya demikian. Akan tetapi, sejak pertama kali menginjakkan kaki di Seminari Xaverianum Ambon, saya berkomitmen untuk berjuang sebisa mungkin, agar kelak saya mampu menjadi seorang pastor yang baik dan bijaksana. Dengan demikian saya dapat membuktikan bahwa masa lalu sebagai seorang penjudi tidak menjadi penghalang bagi saya untuk berkembang menjadi pribadi yang baik.
Sekarang ini saya merupakan seorang frater tingkat satu di Seminari Pineleng. Tentunya banyak hal yang telah saya lalui sampai sejauh ini. Namun, saya tetap bersemangat dan selalu berjuang dalam menjalani panggilan ini.
Saya pun menyadari bahwa masa lalu yang buruk dari seseorang akan menjadi penghalang baginya, jika dia tidak mampu mengambil hikmat baik dari pengalamannya. Namun, masa lalu yang buruk tidak akan menjadi penghalang perkembangan seseorang, jika orang tersebut mampu menjadikan masa lalunya sebagai pembelajaran dan titik tolak untuk terus maju dan berkembang. Sebab dengan adanya kemauan untuk mau berkembang, maka Yesus yang memanggil pun akan menyertai kita selalu. Jika kita ingin Kristus bercahaya di atas kita maka kita harus bangun dari tidur yang lelap dan berusaha bangkit (bdk. Ef. 5:14).
(Fr. Stanislaus Andries Laritmas)











