Refleksi: “Priest for GOD”

0
2014

Menjadi imam untuk Tuhan. Inilah semboyan dalam hidup saya sebagai seorang calon imam. Semboyan ini saya temukan dalam pergumulan pada masa remaja setelah menyelesaikan studi di bangku SMA. Saya menyadari bahwa banyak profesi, pekerjaan, jabatan dan kedudukan menarik di dunia ini yang boleh dimiliki oleh siapa pun termasuk saya. Pula saya tahu bahwa menjadi imam untuk Tuhan merupakan panggilan yang sederhana, panggilan ini tidak menggiurkan, bahkan panggilan untuk menjadadi imam adalah panggilan untuk berkorban dan menderita. Tetapi mengapa memilih untuk menjawab panggilan ini ?

Sejak masa kecil hingga menginjak usia dewasa banyak kebahagiaan yang saya alami, seperti: dicintai keluarga, memiliki banyak teman, mendapatkan prestasi belajar yang baik dan memiliki kekasih yang cantik. Di samping kebahagiaan-kebahagiaan itu pasti ada kesedihan. Misalnya: dimarahi orang tua, dimusuhi dan dijauhi teman-teman, mengalami penurunan dalam bidang akademik dan diputusin pacar. Dari semua pengalaman ini saya merasa bahwa ternyata tidak ada kebahagiaan tanpa kesedihan. Saya menyadari bahwa kebahagiaan yang saya impikan, perjuangkan dan peroleh hanya untuk diri sendiri sehingga kesedihan akan selalu menyertai kebahagiaan itu sebab kebahagiaan yang terlihat nyata ini ternyata hanya sementara saja.

Saya akhirnya sampai pada suatu titik temu yang membahagiakan hati yakni kesadaran untuk berbahagia bagi Tuhan dan bersedih pula untuk-Nya. Saya menemukan bahwa hidup untuk diri sendiri, hidup untuk mengejar kenikmatan bagi diri sendiri tidak akan membawa saya kepada kepenuhan dari kenikmatan itu.

Dalam kesadaran inilah saya memilih untuk menjawab panggilan Tuhan sebagai seorang calon imam-Nya. Kini tidak ada lagi kebahagiaan lain yang saya kejar karena Tuhanlah sumber kebahagiaan itu sendiri. Demikian pun dengan kesedihan. Kesedihan itu tidak harus saya hindari atau takuti lagi sebab ada Tuhan yang menjadi penopang dalam kesedihan itu. Sekarang menjadi imam untuk Tuhan bukan lagi sebuah semboyan melainkan sebuah fondasi yang kokoh dalam perjalanan panggilan saya. Dengan fondasi ini, saya mulai membangun sebuah bangunan imamat tahap demi tahap dengan harapan agar kelak bangunan imamat itu bisa berdiri kokoh dan menjadi tempat yang teduh untuk banyak jiwa dan menjadi sarana yang dapat mempertemukan kembali semakin banyak orang dengan Tuhan. Itulah tujuan saya untuk menjadi imam untuk Tuhan.

( Fr. Alowisius Sormudi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini