Refleksi: “Nada-Nada Ilahi”

0
2167

Banyak yang bilang, hidup seperti alunan musik. Kita adalah pemain musik dan Tuhan adalah pemandunya. Manusia memainkan musik dengan panduan dari Tuhan. Nada-nada ilahi yang kita mainkan menjadi sebuah untaian nada yang bersambung terus menerus tanpa henti sampai Tuhan sang dirigen agung menghentikannya. Setiap manusia itu adalah berbeda, bagaikan alat musik yang dimainkan oleh masing-masing orang. Dari tiap orang, terciptalah keharmonisan lagu.

Menjadi seorang frater Diosesan, calon imam keuskupan, bagi saya merupakan sebuah kesempatan untuk menulis nada-nada kehidupan di keuskupanku. Sejak tugas pertama yakni BOM di stasi Randangan (sekarang masuk paroki Kaaruyan) hingga tugas paskah di Stasi Sangali Paroki St. Maria Palu, banyak sekali ide dan nada kehidupan yang saya dapatkan.

Pengalaman menjalani tugas-tugas komunitas dan kunjungan umat membuat saya sadar, betapa panjangnya lagu yang akan saya tulis di masa mendatang. Banyak hal yang harus saya siapkan. Bagaikan menjadi sebuah alat musik, saya harus dalam kondisi yang baik. Saya percaya bahwa Tuhan adalah konduktor yang selalu mengatur nada-nada kehidupan saya. Kadang terdengar tidak enak bagi orang lain. Tapi  yang pasti nada-nada kehidupan saya adalah pemberian Tuhan. Saya yakin itu selalu baik bagi saya dan semua orang.

(Fr. Rikcardo Dionysius Woi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini