Refleksi: “Jubah dang, Ter…!”

0
2825

Pengalaman adalah guru yang paling berharga. Pengalaman memberi ujian sebelum kita mendapat materi dari pelajaran tersebut. Begitulah sepenggal ungkapan bijak yang sempat saya baca. Menjadi seorang calon imam yang sudah memasuki tahun-tahun akhir tentunya sudah banyak mengenal umat. Di mata umat, petugas pastoral (Frater) adalah seorang pewarta yang dapat dikenal melalui penampilannya.

Dari sekian banyak pengalaman yang diperoleh, satu dari sekian banyak momen yang dialami adalah ketika saya menjalani Tahun Profesionalitas di Unika De la Salle Manado. Pada hari pertama saya melapor untuk menjalani tugas disana saya bercerita dengan Father Andre. Menjelang akhir pembicaraan, Father menjelaskan tentang dress code atau cara berpakaian; Dan cara berpakaian yang dimaksudkan adalah selama saya menjalani tahun professional, saya wajib memakai jubah atau toga.

Saya sempat berpikir lama kemudian mengiyakannya. Pengalaman ini mengatakan kepada saya bahwa dari sekian momen tentang memakai jubah, kali inilah yang berkesan. Selanjutnya, kebiasaan memakai jubah sudah berjalan dengan baik. Pada awalnya saya merasa ada sesuatu yang beda; karena sepanjang hari memakai jubah dan kemudian bertemu dengan banyak orang.

Suatu saat ketika sudah di kampus saya lupa memakai jubah dan seorang ibu rekan kerja di kampus dengan nada ramah berkata, Jubah dang, Ter… sambil dia tertawa. Perkataan itu membuat saya kaget dan sadar akan arti dari keberadaan saya. Saya kemudian bergegas keluar dari ruangan menuju ke kapel untuk memakai jubah.

Pengalaman ini kemudian membawa saya pada pengalaman delapan tahun lalu, ketika pertama kali saya mengenakan jubah bersama dengan teman lainnya di Seminari TOR Pondok Emaus Tateli. Pengalaman itu mengingatkan saya juga pada bacaan Kitab Suci PB yang begitu inspiratif, berbunyi: Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu daya muslihat iblis, karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. (Ef. 6:10-12).

Jika direnungkan, sungguh pengalaman memakai jubah selalu teringat dalam pikiran. Pengalaman itu membuat saya bersyukur karena sebagai Frater saya diingatkan atau ditegur tentang bagaimana saya harus menampilkan diri di tengah umat dan masyarakat.

Sebagai orang terpanggil yang mengenakan busana rohani adalah suatu kebanggaan. Jika memakai, kita sendiri merasa tidak percaya diri, malu tampil beda karena kita beda dengan yang lain; bagaimana nantinya memberi dampak pengaruh kepada anak-anak dan kaum muda remaja?

Berbanggalah karena sekarang jubah yang dulu kita impikan ketika masih seorang seminaris kini benar-benar dikenakan. Memakai jubah juga menjadi sebuah kegiatan promosi panggilan. Mungkin ketika kita memakai jubah, maka anak-anak dan kaum muda akhirnya merasakan sentuhan kehadiran Tuhan yang nyata di hadapan mereka.

(Fr. Jufry Dotulong)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini