“Karunia Allah”: Renungan, 11 Maret 2018

0
3187

Bacaan-bacaan hari ini mau mengungkapkan suatu kemahakuasaan Allah yang berlimpah kasih karunia. Kitab Tawarikh menggambarkan suatu cara Allah mau menyelamatkan kita dengan mengutus utusan- utusan-Nya guna menunjukkan rasa sayang kepada umat-Nya dan tempat kediaman-Nya. Tetapi karena kedegilan hati manusia, maka murka Tuhan bangkit. Inilah cara Allah memandang tindakan manusia: jika manusia tidak setia dan buruk tindakannya maka buahnya yakni murka Tuhan. Sedangkan ketaatan atau kesetiaan pada kehendak-Nya akan membuat manusia memperoleh berkat karunia dari-Nya.

Karunia Allah itulah yang menyelamatkan kita dari segala dosa. Dan karunia itu kita peroleh dari inisiatif Allah dengan mengutus Putra-Nya ke dunia guna membuka kesatuan kita dengan Allah, jika kita tetap setia menghidupi iman kita akan Allah. Sebab, kasih karunia Allah itulah yang membuat kita hidup dan selamat, jika kita mau memprioritaskan hidup kita hanya pada Allah dan bukan segala kelaliman dan keserakahan duniawi kita. Rasul Paulus mengingatkan kita suatu hal yang tak bisa kita pungkiri yakni, kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik sebagaimana dipersiapkan Allah sebelumnya.

Oleh sebab itu, karena begitu besar kasih-Nya akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, suaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa. Hal ini mau meyakinkan kita manusia beriman untuk sadar dan bermegah karena kasih-Nya. Kita tidak memperoleh hukuman, karena tindakan benar kitalah yang menyatakan kita adalah bagian dari kasih Allah itu. Sebab itu, rasul Yohanes mengharapkan kita meninggikan Allah kita dalam artian, hidup dan karya kita selalu berlandaskan pada cara hidup Yesus, Putra-Nya.

Sehingga, masa prapaskah adalah saat dimana Allah menyatakan karunia-Nya lewat peristiwa Yesus wafat demi keselamatan kita semua. Maka, menjadi sebuah panggilan bagi kita agar bertobat dari segala kefasikan dan ketololan kita yang masih hidup dalam kegelapan dosa duniawi. Berubahlah menjadi anak-anak terang demi kegenapan kasih karunia Allah yang mau menyelamatkan manusia dan mengumpulkan semua orang pada kebahagiaan. Karena Allah menjanjikan bagi orang yang percaya hidup yang kekal. Itu berarti bahwa janji itu diperuntukkan untuk kita semua.

(Fr. Stenly Valentine Ambun)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini