“Sadar Diri”: Renungan, 10 Maret 2018

0
8552

Ajaran Tuhan Yesus dalam Injil Lukas pada hari ini sangatlah jelas, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Meninggikan diri sama dengan sombong. Coba saja kita bayangkan apabila kita berlaku sombong di hadapan orang lain. Apakah orang itu akan merasa senang melihat kelakuan yang demikian? Tentu saja tidak. Kita sendiri juga tentu tidak senang atau menjadi risih melihat orang yang sombong. Oleh karena itu, orang yang sombong akan dipandang rendah oleh orang lain bahkan bisadijauhi.

Sikap yang meninggikan diri ini ditunjukkan oleh orang Farisi dalam bacaan Injil hari ini. Tanpa sadar dalam doanya, ia sudah meninggikan dirinya di hadapan Allah dengan membandingkan dirinya sendiri dengan orang-orang lain. Ia mengungkapkan pencapaian dirinya di hadapan Allah tanpa melihat dan menyadari kekurangan dirinya. Ia menilai dirinya dengan standar penilaian dirinya sendiri. Membandingkan-bandingkan diri dengan orang lain tidak jauh beda dengan membedakan diri dengan orang lain. Dia berpikir dan merasa bahwa dirinya sudah menjadi orang benar. Karena merasa diri benar, dia merasa mempunyai hak untuk menghakimi orang yang menurutnya bukan orang benar. Dalam hal ini, merasa diri benar adalah dosa. Orang seperti ini perlu mengintrospeksi diri. Maka perlu kita ingat: Pertama, doa merupakan saat dimana manusia berbicara dengan Tuhan. Ketika berdoa pikiran dan hati manusia hanya terarah kepada-Nya, bukan kepada diri sendiri. Kedua, tidak ada orang yang dapat dibenarkan di hadapan Allah. Apa yang manusia lakukan tidak membuat dirinya benar di hadapan Allah, tetapi oleh kasih karunia-Nya yang melalui Tuhan Yesus Kristus yang membuat manusia dibenarkan.

Sebaliknya, si pemungut cukai merendahkan dirinya di hadapan Allah. Ia berdiri jauh-jauh dari Bait Allah, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah kasihanilah aku orang berdosa ini. Pemungut cukai ini mengakui dirinya di hadapan Allah sebagai orang berdosa. Itulah kesadaran diri yang paling utama saat berdoa, mengakui diri sebagai orang berdosa sekaligus sadar bahwa dirinya itu rendah di hadapan Allah. Gereja mengikuti sikap doa si pemungut cukai ini dengan membiasakan umat menepuk dada sebanyak tiga kali saat doa tobat sambil mengatakan, “Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa”.

(Fr. Ansfridus Samandi)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini