Refleksi: Andai Aku Banyak Uang

0
1538

Perkembangan peradaban di era ini membuat banyak orang berlomba-lomba untuk menciptakan pelbagai inovasi baru. Perkembangan itu khususnya terjadi di dunia teknologi. Banyak orang yang kemudian menjadi orang sukses dengan memanfaatkan perkembangan teknologi saat ini. Ada yang mencoba keberuntungannya dengan menjadi seorang gamers, ada yang menjadi youtubers, ada yang menjadi selebgram, ada yang menjadi tiktokers dan masih banyak lagi. Dari media-media seperti itu, kemudian mereka menghasilkan uang bagi diri mereka sendiri.

Pelbagai kemudahan yang ditawarkan dalam platformplatform itu, menarik minatku untuk membuat akunku sendiri. Di dalamnya aku bisa menikmati banyak hal yang dapat menambah pengetahuanku, tetapi juga menjadi tempat aku mencari hiburan.

Fenomena yang terjadi bahwa banyak hal yang ditawarkan di platformplatform tersebut, membuat banyak pihak mencoba membuat konten yang berkaitan dengan kehidupan pribadi mereka. Dalam beberapa konten, diperlihatkan tentang kedermawanan dari pihak-pihak yang suka membantu mereka yang berkekurangan. Nah, yang menarik ialah komentar-komentar dari netizen terhadap konten-konten tersebut. Ada yang berkomentar “Itu aku kalau aku punya banyak uang”, “Itulah mengapa aku ingin jadi orang kaya agar bisa membantu banyak orang”, “Aku juga akan membuat hal yang sama asalkan aku punya banyak uang” dan masih banyak lagi model komentar yang serupa. Intinya “ASALKAN AKU PUNYA BANYAK UANG BARULAH AKU BISA MENOLONG ORANG LAIN”.

Menarik bahwa hal ini perlu direfleksikan dalam terang iman. Banyak orang yang hanya mau berbagi di dalam kelimpahannya. Ketika ia memiliki materi yang berkelimpahan barulah ia mau berbagi dengan orang lain. Padahal, orang dapat memberi, dapat berbagi dari kekurangannya. Aku teringat kisah dalam Kitab Suci tentang persembahan seorang janda miskin. Walaupun ia hidup dalam kemiskinan, namun 2 peser yang dipersembahkannya kepada Allah menunjukkan bahwa ia sesungguhnya kaya. Ia mungkin miskin di dunia, namun sesungguhnya ia kaya di mata Allah.

Memang benar dan tak dapat dipungkiri bahwa seringkali orang hanya mau untuk memberi ketika ia berkelebihan. Aku pun kadang demikian. Kadangkala, orang susah berbagi dan menutupi hal itu dengan argumen, “aku saja masih berkekurangan” ataupun “untuk diriku saja belum cukup, mana mungkin aku harus memberi sebagian untuk orang lain?” dan masih banyak lagi alasan yang dikemukakan. Belajar dari janda miskin dan dari pengalaman Yesus, kita diajak untuk menjadi pribadi-pribadi yang mau berbagi kepada sesama, entah dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Tuhan Yesus menyayangi dan memberkati kita.

(Fr. Filbert Oktavianus Consensio Ngafrehen)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini