Hari Biasa (H).
BcE 1 Mak. 2: 15-29; Mzm. 50: 1-2, 5-6, 14-15; Luk. 19: 41-44.
“Andaikan kamu mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu!” Kita mungkin pernah mendengar kutipan di atas. Kutipan itu menarik jika kita dalami. Di situ nampak kasih dan cinta Yesus yang tulus bagi manusia. Ketika Yesus datang ke kota Yerusalem, Ia pun menangis karena melihat penduduk di Yerusalem yang terlalu percaya diri dan merasa paling benar sehingga pada saat Yesus mengajarkan tentang ajaran iman, mereka tidak mudah untuk percaya pada perkataan Yesus itu sendiri.
Kota Yerusalem merupakan kota damai sejahtera, namun mereka yang tinggal di kota itu belum menunjukkan damai sejahtera bagi sesamanya. Mereka juga belum mampu menciptakan damai sejahtera di dalam kota itu. Sehingga Yesus sangat sedih bahkan menangis melihat kota Yerusalem itu tidak sesuai dengan apa yang Yesus sendiri pikirkan. Sebab mereka yang berada di situ tidak bisa melihat dengan jelas akan kehadiran Allah yang datang di tengah-tengah mereka melalui Yesus Kristus melainkan lebih suka melakukan kejahatan-kejahatan duniawi.
Allah selalu menampakkan diri-Nya dan ingin berelasi dengan manusia secara dekat. Namun tidak semua manusia menyadarinya sehingga malah menjaga jarak dengan Allah. Manusia sendiri takut kebebasannya hilang atau pun terbatas karena kehadiran Allah. Oleh karena itu manusia tidak pernah sadar akan kasih Allah yang besar bahkan manusia sendiri lebih sibuk dengan pekerjaannya, karirnya, sibuk dengan hal-hal duniawi, media sosial, dan hal-hal yang membuat dia merasa nyaman.
Akibatnya kasih dan karunia Allah itu lewat begitu saja tanpa disadari oleh manusia. Di saat manusia mengalami keterpurukan, kegagalan, dan sakit, barulah mereka mempersalahkan Tuhan dan menganggap bahwa Tuhanlah penyebab dari kegagalan, kesakitan dan begitu banyak persoalan yang harus diselesaikan.
Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita berpikir bahwa Allah itu selalu menuntut kita untuk berkorban dan memberikan diri seutuhnya kepada-Nya. Sehingga pengorbanan yang kita lakukan akan terasa berat dan sakit karena pengorbanan itu dilakukan karena kewajiban yang bersifat mutlak. Allah tidak pernah menuntut kita untuk melakukan pengorbanan yang berat. Ia hanya ingin supaya kita tetap berpegang kepada-Nya dan tidak meninggalkan-Nya. Kisah Matias dalam kitab Makabe kiranya menjadi contoh yang baik bagaimana sikap kita dalam mengimani Allah.
(Fr. Mathias Fasse)
“Wahai, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu” (Luk. 19:42).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, kuatkanlah aku untuk terus berpegang kepada-Mu dengan setia. Amin.











