Kita hidup diantara berjuta-juta orang dan bahkan miliaran orang di dunia. Kita ada diantara begitu banyak manusia dengan semua kualitas dan keunikan mereka masing-masing. Kita adalah salah satu dari banyak sekali hati yang diciptakan untuk menghiasi dunia ciptaan Tuhan.
Dalam keunikan itu, kita hidup bersama-sama dengan orang lain. Demikian kita memperoleh teman dan sahabat. Siapa itu teman? Siapa itu sahabat? Dua hal ini sering dilihat secara berbeda menurut anggapan orang. Tetapi satu hal yang sama bahwa mereka adalah manusia yang diciptakan untuk mewarnai dunia dengan cara mereka masing-masing.
Saya tinggal di sebuah lembaga pendidikan calon imam, saat ini sebagai frater tingkat minor. Ada banyak orang yang dibina ditempat ini. Mereka selalu punya cara sendiri untuk menikmati hidup di tempat ini. Banyak ekspresi yang dipancarkan dari wajah orang-orang ini. Mulai dari ekspresi kegembiraan sampai ekspresi penyesalan. Semua itu terpancar dari diri mereka secara beragam.
Hidup bersama mereka yang beragam itu mengajarkan saya banyak hal. Saya belajar tentang ketulusan, kepolosan dan kejujuran. Mereka menampilkan jati diri yang tidak dimiliki orang lain. Mereka tampil apa adanya, tanpa harus berpura-pura. Mereka tampil sebagai diri sendiri, dan bukan menjadi orang lain hanya untuk mendapatkan pujian. Teman dan sahabat, itulah sebutan saya bagi mereka.
Dari mereka saya belajar bagaimana caranya berjuang tanpa harus mengeluh. Bagaimana “menjadi tiang untuk menopang sebuah bangunan”, “menjadi air yang membasahi tanah yang kering”, dan “menjadi salah satu warna yang melengkapi warna yang lain dalam mewarnai dunia”. Mereka adalah orang-orang luar biasa.
Bagi saya, kelucuan mereka melebihi para pelawak. Karena mereka bisa membuat orang lain bahagia dan tertawa. Sekalipun mereka pun punya banyak masalah yang sebenarnya menjadi beban dalam diri mereka wajah ceria senantiasa terpancar dalam diri. Mereka lebih memilih membuat kami bahagia. Saya senang bisa mengenal orang-orang ini. Saya sering berpikir, “apakah mereka punya mental baja?” Satu hal yang tak pernah saya lupa dari mereka adalah sikap keterbukaan mereka. Mereka mau berbagi, mereka mau memberi, dan mereka mau menerima.
Mereka mengajarkan satu hal yang besar bagi saya. “Keterbukaan” merupakan sebuah kunci memulai hidup yang lebih baik. Jika kau sudah terlalu terlalut dalam hidup yang kelam, cobalah untuk terbuka. Terutama terbuka untuk menerima Tuhan masuk ke dalam hati. Satu hal yang menjadi kebanggaan saya, bahwa mereka bukan hanya sekedar sahabat, mereka bukan sekedar teman. Kepelbagaian menjadikan mereka Keluargaku.
(Fr. Andi Bambi)











