“Akulah Roti Hidup”: Renungan, Selasa 28 April 2020

0
9097

Hari Biasa Pekan III Paskah (P)

Kis. 7:51- 8:1a; Mzm. 31:3cd,4,6ab,7b,8a,17,21ab; Yoh. 6:30-35

Kehidupan manusia selalu tidak terlepas dari makanan dan minuman. Demi mempertahankan hidup, manusia membutuhkan makanan dan minuman. Tak heran jika manusia selalu berusaha keras membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Usaha yang terus dilakukan manusia itu tentunya sangat bernilai dalam kehidupan di dunia. Namun semuanya itu masih bertaraf jasmani yang bersifat sementara saja.

Dalam injil hari ini, Yesus digambarkan sebagai roti hidup yang mengungkapkan kekayaan pribadi Yesus. Gambaran Yesus sebagai roti hidup hendak menegaskan bahwa, Dialah pusat tujuan hidup manusia. Dialah santapan rohani yang memberi manusia hidup kekal. Hal ini ditegaskan oleh Yesus sendiri dengan mengatakan bahwa “Akulah roti hidup barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi dan barangsiapa percaya ia tidak akan haus lagi” (Yoh. 6:35).

Yesus hendak menunjukan bahwa tujuan hidup manusia bukan hanya bergantung pada makanan dan minuman yang bersifat jasmani dan sementara. Yesus adalah roti hidup yang memberi kekuatan bagi jiwa. Dialah roti hidup yang memberikan daya hidup bagi manusia yang percaya kepada-Nya. Roti hidup yang mengungkapkan kekayaan pribadi Yesus ini terwujud dalam Ekaristi. Sebab di dalam Ekaristi, Kristus hadir, dipersembahkan dan disantap serta melalui-Nya manusia hidup. Oleh karena itu, barangsiapa datang kepada-Nya dan menyambut-Nya ia tidak akan berkekurangan. Malahan memperoleh kehidupan kekal.

Dalam zaman modern ini, kebanyakan orang lebih mementingkan pekerjaan dari pada mencari Dia yang adalah sumber kehidupan. Orang lebih suka tidak mengikuti perayaan Ekaristi, daripada tidak bekerja. Sebab orang hanya mengutamakan kehidupan di dunia ini yang bersifat sementara dari pada mengutamakan kehidupan abadi. Keadaan inilah yang menjadi perhatian kita bersama.

Bacaan pertama, berkisah mengenai Stefanus yang dihukum karena bersaksi tentang Yesus Kristus. Sebagai orang beriman, kita juga harus seperti Stefanus, mampu bersaksi dan mengajak mereka yang lebih mementingkan kebutuhan jasmani, untuk juga mementingkan kebutuhan rohani. Dengan kata lain, mampu mengajak orang untuk selalu mau datang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi. Mari menghantar jiwa-jiwa menuju pada kehidupan kekal.

(Fr. Rewilianus Paisu)

“Akulah roti hidup, barangsiapa datang kepada-Ku ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh, 6:35)

Marilah Berdoa:

Tuhan ajarilah kami untuk mampu memilih yang paling utama dalam kehidupan ini. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini