Kasih sayang bukan hanya suatu konsep belaka, melainkan harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Aktualisasi ini membutuhkan kepenuhan hati untuk melaksanakannya. Hasil dari kepenuhan hati adalah cinta yang maksimal.
Pada beberapa waktu yang lalu, saya dan beberapa teman mendapat kesempatan untuk melaksanakan program Diakonia dan Martyria di SLB Tuna Grahita Sta. Anna Tomohon. Saya sendiri merasa takut pada awalnya. Hal ini karena kondisi dan keadaan mereka yang cukup riskan. Ini adalah sebuah kecemasan awal yang ada dalam benakku. Akan tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka menjemput kami dan bermain bersama.
Kegiatan yang kami lakukan bersama mereka adalah hidup sebagai saudara. Saya pun mendapat pelukan dari beberapa anak yang serentak meluluhkan hati saya. Mereka tidak dapat melaksanakan banyak aktifitas seperti manusia normal namun mereka memberikan suatu hal berharga yang jarang dan mungkin tidak dapat diberikan oleh orang lain di luar.
Suatu hal yang saya petik dari mereka adalah mereka tidak bisa memberikan perhatian, uang ataupun hal lain tetapi mereka dapat memberikan senyuman yang sangat indah. Inilah ungkapan cinta dari hati yang tulus dari mereka terhadap sesama. Karena cinta mereka bukan dari kelebihan namun dari keterbatasan yang mengajak mereka untuk selalu bersyukur dalam situasi dan kondisi keterbatasan.
Saya sangat bahagia mendapat kesempatan pergi ke tempat itu karena dari merekalah kita perlu belajar dan perlu mengaktualisasikan cinta dalam kehidupan sehari-hari. Inilah panggilan hidupku yang Tuhan berikan kepadaku sebagai manusia yang sama seperti mereka dan juga sebagai calon imam (frater) yang wajib memperhatikan dan mengasihi sesama terlebih seperti mereka yang yatim dan piatu serta terbatas secara fisik dan mental.
Sebagai calon imam, kita turut mengikuti teladan Yesus sebagai Sang Imam Agung dan pemberi kasih yang sempurna kepada manusia “kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”. Inilah panggilan kepadaku sebagai frater. Bahwa dalam hidup panggilan ini, yang diutamakan adalah orang-orang seperti mereka. Pelayanan inilah yang memberi kesaksian tentang kasih Allah kepada dunia.
Pengalaman tinggal dan hidup bersama mereka hanya selama 2 hari 1 malam memberikan banyak kenangan yang berharga bagi panggilanku. Mereka mengajak aku untuk selalu bahagia dengan apa yang aku miliki karena itulah anugerah Tuhan bagi diriku yang tidak ada pada orang lain.
Segala cara yang mereka miliki mengajarkan aku menjadi orang yang bersabar dan setia pada jalan hidupku sama seperti mereka yang sabar dan setia menjani hidup di tempat tersebut, sehingga bagiku mereka seperti malaikat kecil yang Tuhan titipkan kepada kita.
Sewaktu kami hendak pulang ke seminari, mereka melepaskan kami dengan sedih, dan berpesan kepada kami “frater jangan lupa pa torang disini neh”, mengartikan bahwa mereka sangat membutuhkan kasih sayang dari sesama manusia dan mereka selalu bersyukur dan bahagia atas apa yang mereka miliki walaupun itu sedikit tetapi sangat bermakna dan berharga.
Tidak ada hal yang sempurna di dunia ini, untuk itulah kita dipanggil untuk memberikan cinta kepada sesama, siapapun dan kapanpun dalam lingkungan kehidupan kita setiap hari.
(Fr. Innocent Larat)











