“Amoris Laetitia”: Renungan, Selasa 30 Oktober 2018

0
3012

Hari Biasa (H)

Ef. 5:21-33; Mzm. 128:1-2,3,4-5; Luk. 13:18-21.

Dalam ensiklik Amoris Laetitia (Joy of Love; Sukacita Kasih), Paus Fransiskus memberi perhatian khusus kepada setiap keluarga.

Ia mengatakan: “Tidak ada keluarga yang sempurna. Kita tidak punya orang tua yang sempurna, kita tidak sempurna, tidak menikah dengan orang yang sempurna, kita juga tidak memiliki anak yang sempurna… Keluarga harus menjadi tempat kehidupan dan bukan tempat kematian; sebuah tempat penyembuhan, bukan tempat penuh dengan penyakit; sebuah panggung pengampunan dan bukan panggung rasa bersalah.”

Rasul Paulus dalam suratnya kepada umat di Efesus, menegaskan kepada kita bahwa haruslah cinta Kristus menjadi fondasi yang kokoh bagi kehidupan suami-istri; wadas nan kuat bagi kehidupan berkeluarga yang mengharapkan sukacita dan kedamaian di dalamnya.

Kasih menjadi penopang terbesar dalam hidup berkeluarga. Kasih harus menjadi alasan utama mengapa keluarga itu terbentuk. Kasih mendorong setiap anggota keluarga mencintai satu sama lain baik-buruknya, sakit-sehatnya, untung-malangnya. Oleh sebab itu, Rasul Paulus sendiri meyakinkan kita semua bahwa hanya dengan kasih Kristus itulah suami-istri dipersatukan menjadi satu daging dalam kesatuan sebagai keluarga Kerajaan Allah.

Dalam konteks itu, Penginjil Lukas mengingatkan bahwa keluarga harus pertama-tama menjadi naungan yang aman dan nyaman bagi setiap penghuninya. Keluarga mesti menjadi “biji sesawi” yang tumbuh dan menjadi pohon besar sehingga burung-burung tak pernah henti bersarang di situ. Serentak dengan itu, keluarga mesti juga menjadi “ragi” yang senantiasa memberi perkembangan iman akan Kristus bagi setiap anggotanya. Keluarga yang demikian menjadi representasi dari Kerajaan Allah di dunia. Kerajaan Allah yang penuh dengan Sukacita Kasih.

Namun, tak bisa disangkal bahwa keluarga kita setiap hari selalu diperhadapkan dengan tantangan dan godaan. Keluarga kita tidaklah sempurna. Semakin kesetiaan itu dipertahankan, semakin banyak pula guncangan yang dialami. Akan tetapi, pada akhirnya setiap jerih payah akan diperhitungkan. Setiap usaha akan menerima hasilnya yakni menyaksikan kebahagiaan Yerusalem seumur hidup.

Oleh karena itu, hari ini kita diajak supaya tak jemu-jemu menciptakan sukacita dalam keluarga. Kita menjadi promotor dalam mengupayakan kehidupan keluarga yang penuh dengan cinta Kristus. Kita menjadikan keluarga sebagai tempat yang aman dan nyaman bagi setiap anggotanya. Sehingga berkat Tuhan dapat mengalir terus dalam kehidupan bersama di tengah-tengah keluarga kita.

(Fr. Ray Legio Angelo Lolowang)

“Kiranya Tuhan memberkati engkau dari Sion, supaya engkau melihat kebahagiaan Yerusalem seumur hidupmu…” (Mzm. 128:5).

Marilah berdoa:

Ya Kristus, jadikanlah keluarga kami seperti keluarga kudus di Nazareth yang dipuja-puji karena keluhuran hidup mereka. Amin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini