“Pada awalnya adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Tuhan, dan Firman itu adalah Tuhan” (Yoh. 1:1). Begitulah sabda yang tertulis dalam Kitab Suci. Yesus Kristus adalah penyelamat umat manusia. Allah Bapa telah menepati janji-Nya untuk mengutus Putra-Nya sendiri ke dunia. Dengan pengantaraan malikat Gabriel, kabar keselamatan disampaikan kepada Bunda Maria. Sang Penyelamat ini sungguh menjadi manusia. Dia hidup bersama manusia dan hingga akhirnya Dia bangkit dari kematian untuk menebus dosa-dosa manusia. Inilah pewartaan yang dilakukan oleh para murid dan tetap bergema di kalangan orang-orang Kristian sampai sekarang.
Inkarnasi berarti Roh Tuhan menjadi daging, artinya Tuhan menjadi daging, pekerjaan yang dilakukan daging adalah pekerjaan Roh, yang diwujudkan dalam daging dan diungkapkan oleh daging. Tidak seorang pun kecuali daging Tuhan yang dapat menggenapkan pelayanan Tuhan yang berinkarnasi. Dia memiliki kemanusiaan yang normal membuktikan bahwa Dia adalah Tuhan yang berinkarnasi dalam daging. Fakta bahwa Dia menjadi proses pertumbuhan manusia normal menunjukkan lebih jauh lagi bahwa Dia adalah daging yang normal, lebih dari itu, pekerjaan-Nya adalah bukti yang cukup bahwa Dia adalah Firman Tuhan.
Seperti para murid yang memiliki iman yang besar bahwa Allah telah menjadi manusia. Dalam Injil Yohanes menyatakan bahwa Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Penggenapan inkarnasi Sabda tersebut dapat kita lihat dalam Perayaan Ekaristi. Di sinilah tampak jelas bahwa Perayaan Ekaristi adalah tindakan Kristus sendiri dimana Kristus telah mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa untuk kita, agar kita pun ikut ambil bagian dalam pengurbanan diri-Nya, dan Dia telah memberikan diri-Nya bagi kita sebagai roti hidup sepanjang ziarah kita di dunia ini menuju kepada Bapa. Kita sebagai manusia harus melihat tindakan inkarnasi Yesus itu adalah untuk menyelamkan kita manusia. Lewat cinta kasih-Nya, kita memperoleh hidup yang lebih baik dan keselamatan.
Dengan pemahaman kesadaran seperti itulah maka hendaknya kita dapat mendewasakan iman kita dengan mengetahui cara bagaimana bersyukur dengan segala sesuatu yang kita peroleh dalam hidup ini. Terlebih dengan pemahaman tersebut kita dapat mendewasakan iman kita dengan mengetahui cara bedoa yang benar. Sehingga ketika mengikuti Perayaan Ekaristi, kita sebagai manusia yang banyak dosa akan sadar, betapa begitu besar cinta Allah Bapa kepada kita manusia sampai Ia mengutus Putra-Nya yang tunggal turun ke dunia demi menebus dosa-dosa kita manusia.
(Fr Dandi Papoto)











