Refleksi: “Salib Kehidupan”

0
6095

Salib sering kali bukanlah menjadi impian manusia. Bahkan salib merupakan hal yang ingin dihindari oleh setiap manusia. Mengapa? Karena salib dalam kehidupan manusia identik dengan penderitaan. Rasa sakit akibat penderitaan yang kita alami sering begitu dalam, dan itu tidak bisa hilang begitu saja. Hal itu merupakan sebuah realitas yang kita miliki karena kadang terkait dengan beberapa pengalaman hidup kita yang paling awal. Karena itu bukanlah hal yang mudah bagi kita untuk menerima, merangkul, memikul dan membawa salib hidup kita setiap hari. Kendati demikian, sebagai pengikut Kristus, kita harus sadar bahwa yang menjadi hakikat panggilan hidup kita ialah untuk membawa penderitaan itu sebagai milik kita dan memasukkan rasa sakit kita ke dalam diri kita dan membiarkannya berbuah berkat di hati kita dan hati orang lain.

Inilah yang Yesus maksudkan saat ia meminta kita untuk memikul salib kita. Dia mendorong  kita untuk mengenal dan menerima penderitaan kita yang khusus dan percaya bahwa jalan menuju keselamatan terletak di dalamnya. Dengan mengambil salib berarti kita bersahabat dengan luka-luka kita dan membiarkan luka-luka itu mengungkapkan kebenaran pada kita. Hal demikian dapat terjadi jika kita bersandar pada salib Kristus. Kematian Yesus di kayu salib hendak mengatakan bahwa Yesus bukan hanya sekedar manusia, tetapi Ia adalah Tuhan yang merendahkan diri-Nya setara dengan manusia. Dialah Tuhan dan Penyelamat.

Dalam kehidupan, ketika kita memandang salib, tentu terdapat beragam pikiran tentang salib itu. Namun, barangkali kita tak menyadari bahwa di dalam salib itu ada suatu kehidupan, dalam artian melalui salib itu, hidup kita diubah. Salib yang kita pasang di rumah bukan hanya sekedar simbol, tapi mempunyai makna yang dalam. Salib yang kita pasang itu menjadi sumber kehidupan. Ke mana kita pergi kita selalu membuat tanda salib. Karena dengan salib itu, kita mengenang akan sengsara dan wafat Kristus. Ingat juga bahwa berkat salib Kristus, kita diselamatkan. Hidup kita diubah. Meskipun perjalanan hidup kita penuh dengan derita (via dolorosa) tapi kalau perjalanan kita bersama Yesus, maka semuanya menjadi ringan. Bukankah Yesus berkata: “Datanglah kalian yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu” (Mat. 11:28). Itu berarti salib merupakan sumber kehidupan dan kemuliaan. Salib sebagai salib kehidupan seharusnya menjadi sumber keselamatan kita. Dan salib Kristus sebagai salib kehidupan akan membawa kita kepada keselamatan. Oleh karena itu pandanglah salib Kristus sebagai salib kehidupan. Karena pada salib itulah terletak keselamatan hidup kita.

(Fr. Pieter Daing)

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini