Suatu fenomena yang menjadi penghambat seseorang dalam pertumbuhan dan perkembangan dirinya ialah rasa cinta diri. Cinta diri merupakan tindakan memanjakan diri sendiri untuk kebahagiaan personal. Situasi ini memang sudah sangat umum terjadi pada diri manusia namun terkadang tidak disadari-nya.
Cinta diri memang perlu namun jika berlebihan maka dengan sendirinya ia sedang berjalan menuju kegagalan. Menghayati hidup dan panggilan saya di Seminari, saya pun menyadari bahwa cinta diri yang berlebihan sangat tidak sesuai dengan semangat seorang pejuang Kerajaan Allah. Contoh-contoh bentuk cinta diri yang berlebihan ialah tidak mau bekerja keras, suka tidur dimana pun dan dalam situasi apapun, serta menghindari persoalan hidup. Setiap orang yang cinta diri akan terus berusaha agar apa yang diinginkan tercapai tanpa kendala. Saat mengalami tantangan, ia akan berbalik mencari jalan lain.
Cinta diri akan sampai pada tahap yang fatal, yaitu mengorbankan orang lain demi kenikmatan, kebahagiaan dan kemakmuran diri sendiri. Setiap orang yang terlalu mencintai diri sendiri tak akan peduli dengan orang lain. Semua tujuan dan perjuangan hanya untuk kebahagiaan diri sendiri.
Apakah setiap pribadi telah menyadari bahwa rasa cinta diri melukai dan merugikan orang lain di sekitar? Saya pun hendaknya melihat kembali sikap Yesus. Kerelaan dan pengorbanan di Salib merupakan teladan agung yang pantas diteladani. Mencintai diri hanya dapat dihadapi dengan cara penyangkalan diri. Ingatlah akan kata-kata Tuhan, kelayakan untuk mengikuti-Nya ialah penyangkalan diri.
Penyangkalan diri akan membantu saya untuk tidak hidup bagi diri sendiri melainkan hidup bagi semua orang. Saya harus menyadari bahwa manusia merupakan makhluk sosial. Saya tidak bisa hidup bagi diri sendiri, karena banyak orang yang membutuhkan saya hari ini, besok dan seterusnya. Cinta diri hanya membawa pada penindasan oleh keserakaan. Tetapi, penyangkalan diri adalah pembebas yang perkasa.
Sampai kapan saya harus hidup dalam rasa cinta diri yang membelenggu? Banyak kegagalan selalu ditemui karena semangat perjuangan yang melemah. Penyebabnya ialah rasa cinta diri yang berlebihan. Tak jarang saya hendak berjuang untuk melakukan sesuatu namun selalu ada keinginan untuk menundanya dengan alasan masih ada waktu. Rasa cinta diri memang akan selalu memberikan berbagai alasan. Kehidupan dengan rasa cinta diri yang berlebihan akan menjadi kalah sebelum berjuang.
Penyangkalan diri sebagai bentuk perlawanan terhadap rasa cinta diri terkadang berat untuk dilakukan. Tetapi itulah bentuk perjuangan yang harus saya jalani. Dengan menyangkal diri maka saya akan menjadi pejuang yang berhasil. Ingatlah bahwa musuh terbesar manusia ialah ego-nya sendiri.
(Fr. Alowisius Sormudi)











