Refleksi: “Pacar, Negeri Sakura dan Seminari”

0
2700

Tidak ada seorang pun manusia yang dapat menebak kehidupannya. Mengapa? Karena apa yang akan terjadi hanya Tuhanlah yang mengetahuinya. Itulah mengapa seringkali rencana manusia tidak sesuai dengan kehendak Allah. Seperti sekarang ini, menjadi seorang calon imam bukanlah rencana saya. Pilihan untuk menjadi seorang calon imam tidak pernah terlintas dalam benak saya.

Empat tahun yang lalu, saya memberanikan diri untuk berhenti kerja di salah satu perusahaan swasta di kota Manado. Posisi saya di perusahaan tersebut bisa dibilang “posisi yang bagus”. Orang lain pun ingin berlomba mendapatkan posisi tersebut. Alasan saya berhenti bekerja yakni saya ingin berangkat ke luar daerah.

Singkat cerita, keinginan saya untuk ke luar daerah pun terkabul. Atas restu orang tua dan pacar saya, saya berangkat ke Jepang. Saya merasa senang sekali tinggal di sana. Akan tetapi di lain sisi saya merasa jauh dari Tuhan. Selama tujuh bulan tinggal di sana, saya tidak pernah pergi beribadah di gereja. Saya tidak menyambut Tubuh Tuhan dalam perayaan Ekaristi. Alasannya, karena pada hari minggu saya harus bekerja.

Situasi ini tidak membuat saya langsung meninggalkan iman kepercayaan. Dalam benak saya berpikir ini adalah tantangan untuk menguji iman. Setelah menyelesaikan kontrak kerja di Jepang, saya kembali ke Indonesia. Untuk menebus kealpaan saya dalam beribadah, saya memberi diri untuk kembali aktif dalam kegiatan gereja khususnya dalam kelompok Orang Muda Katolik dan mulai aktif mengikuti perayaan Ekaristi.

Di sela-sela kesibukan dalam pelayanan, muncul keinginan untuk masuk seminari. Tetapi saya masih bingung sebab saya telah memiliki pacar dan sudah memperkenalkannya kepada orang tua saya. Begitu pun sebaliknya. Kami telah sepakat untuk menikah. Situasi ini membuatku bingung.  Mau menikah atau jadi imam?

Akhirnya dengan segala cara, saya pun mencoba menjelaskan maksud saya kepada pacar saya. Sudah bisa ditebak dia tidak mengizinkan saya untuk masuk seminari. Namun atas tekad yang kuat, saya pun memberanikan diri untuk mengakhiri hubungan kami. Saya sangat bersyukur sebab Tuhan telah menghadirkan dia dalam hidup saya. Dalam kebersamaan dengan dia, saya merasa betapa besar dan hebatnya cinta kasih Tuhan kepada saya. Atas rahmat ini, saya memilih untuk menjalani panggilan sebagai seorang calon imam.

Meskipun pada awalnya begitu sulit untuk dijalani. Kendati demikian saya mensyukuri setiap proses yang telah dan sementara saya jalani. Saat ini saya sangat bersyukur karena saya masih diberikan kesempatan oleh Tuhan. Panggilan saya semakin kuat. Harapan saya, semoga saya semakin setia dan teguh dalam panggilan sebagai calon imam.

(Fr. Michael Mefri Kewo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini