Refleksi: “Memilih-Nya atau Memilih-nya”

0
2293

Setiap manusia pasti memiliki kecenderungan untuk hidup berdampingan. Bahkan lebih dari itu, memiliki pasangan hidup, adalah harapan dari sebagian besar orang. Cara pandang dan cara hidup demikian pun, secara biologis adalah sesuatu hal yang wajar untuk dilalui. Maka, apakah tidak memiliki pasangan hidup tidak relefan? Saya kira tidaklah demikian. Sah-sah saja orang memilih untuk hidup sendiri asalkan hidupnya tidak bertentangan dengan orang lain dan tidak mendatangkan penderitaan bagi orang lain.

Menjadi seorang calon imam berarti memilih untuk hidup tanpa “pasangan” sebagaimana yang di dambakan sebagian besar orang itu. Menjadi seorang calon imam, berarti menghayati hidup selibat. Berkaitan dengan ini saya secara pribadi tak bisa menyangkal bahwa saya bebas dari perasaan cinta terhadap wanita. Bagi saya hal ini menjadi tantangan tersendiri. Saya harus berjuang dan mencari cara untuk belajar dan perlahan-lahan mulai terbiasa untuk bebas dari perasaan cinta atas relasi saya dengan seorang wanita. Artinya, bahwa bukan menghilangkan perasaan cinta terhadap lawan jenis, tetapi bagaimana saya harus belajar konsisten terhadap apa yang sudah saya pilih dan perjuangkan.

Untuk mencapai kelayakan itu saya harus berani membuat pilihan antara memilih-Nya atau memilih-nya. Memilih-Nya, dalam konteks mengikuti panggilan-Nya karena Tuhanlah yang memilih dan memanggil saya untuk mengikuti-Nya; bukan sebaliknya.

Dalam upaya untuk berkomitmen pada janji itu, saya belajar bagaimana melepaskan perasaan cinta ini. Komitmen itu tidak serta merta langsung dilepaskan, tetapi secara berlahan-lahan perasaan itu diberi porsi yang lebih dekat, yakni memandangnya sebagai seorang sahabat. Perlu disadari bahwa yang patut untuk dikejar pada akhir perjalanan itu ialah keikhlasan; meninggalkan dan ditinggalkan.

Dalam hal ini dibutuhkan pertanggungjawaban atas pilihan hidup yang sudah sejak awal telah saya bentuk. Maksudnya, ialah konsisten pada pilihan. Meski sudah ada pilihan awal, tetapi dalam perjalanan waktu tak bisa dipungkiri bahwa ada saja yang memicu terjadinya pilihan yang baru. Perasaan dilemma, adalah salah satu dampak yang muncul. Oleh karena itu, kembali pada keyakinan awal bahwa konsisten pada sebuah pilihan itu menjadi dasar yang penting dalam menjalani hidup yang demikian adanya.

Inilah menjadi jawaban atas rasa dilema itu. Saya pun kini menyadari bahwa tidak sulit untuk membuat pilihan tetapi saya tahu bahwa sulit untuk membuat putusan atas pilihan itu. Tantangan ini biarlah menjadi pembelajaran bagi saya untuk bertanggung jawab atas semua pilihan yang saya buat. Pada akhirnya akan ada putusan dalam hidup ini, tergantung sejauh mana saya berefleksi atasnya.

(Fr. Domy Samponu)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini