Di zaman modern ini, kita lebih cenderung suka akan hal-hal yang instan atau serba jadi. Kecenderungan ini membuat kita tidak mau berusaha lagi untuk mendapatkan sesuatu. Di lain pihak juga, kita sering menganggap bahwa usaha yang kita peroleh merupakan usaha dari diri sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita menganggap diri sudah mampu dan layak berjalan sendiri tanpa dukungan dari orang lain.
Bacaan pertama hari ini dalam Kisah Para Rasul menceriterakan tentang peristiwa keselamatan yang diwartakan oleh Petrus dan Yohanes. Kedua Rasul tersebut tidak merasa takut dalam mewartakan karya keselamatan Allah karena iman yang didorong oleh Roh Kudus. Bacaan Injil hari ini melukiskan tentang penampakan Yesus kepada para murid-Nya di danau Tiberias yang bertempat di Galilea. Penampakan Yesus merupakan penampakan ketiga kali sesudah kebangkitan-Nya. Penampakan Yesus berawal dari kisah penangkapan ikan yang dilakukan oleh para murid-Nya. Pada saat itu para murid tidak mengenal atau tidak tahu Yesus sendiri ketika Ia berdiri di pantai. Yesus melakukan dialog dengan para murid-Nya untuk menanyakan “apakah mereka mempunyai lauk?” Para murid mengatakan dengan jujur bahwa mereka tidak memiliki. Maka Yesus menyuruh mereka untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu. Dan pada saat itu juga, para murid mengenal Yesus.
Terkadang kita sering lupa akan dukungan atau bantuan dari orang lain. Bukan hanya lupa, tetapi tidak sama sekali mau menerima dukungan atau bantuan orang lain. Bacaan-bacaan hari ini mau mengingatkan dan mengajak bahwa kita tidak dapat berdiri sendiri tanpa orang lain. Peristiwa Yesus dan para murid-Nya mengajarkan kita untuk saling berbagi dan saling membantu, meskipun itu bantuan sederhana. Kita sebagai umat yang berdosa seharusnya bersyukur atas rahmat yang diberikan Allah melalui hidup, wafat dan kebangkitan Putra-Nya. Allah menunjukan cinta kasih yang begitu nyata dalam setiap kehidupan kita sehari-hari. Maka cinta yang diberikan Allah, haruslah kita bagikan kepada sesama. Semoga dalam masa Paskah ini, kita dapat saling memberikan dukungan dan bantuan kepada sesama seperti yang dilakukan oleh Yesus dan para murid-Nya. Melalui peristiwa ini maka munculah di dalam diri kita kesadaran, “Unitas In Vinculo Pacis” (kesatuan dalam ikatan damai) yang didasarkan pada Kristus yang selalu hadir dalam diri kita. Kita tidak dapat berdiri sendiri atau selamat tanpa kehadiran Yesus.
(Fr. Tinus Nifanngelyau)











