Melarang orang untuk berkata dan bertindak benar adalah tindakan orang yang tidak beriman. Melakukan berbagai cara untuk menghalangi kebenaran adalah tindakan orang yang tidak mengenal Tuhan. Kebenaran kini menjadi kenyataan yang amat memilukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kebenaran seringkali disembunyikan bahkan dihalangi untuk ditegakkan. Tak jarang pula, menyembunyikan dan menghalangi kebenaran menjadi “dagangan” yang amat laris. Sungguh miris melihat realitas ini, karena sejatinya bangsa kita adalah bangsa yang berpegang pada kebenaran, bangsa yang menjadikan Tuhan sebagai sumber dan pusat hidupnya.
Ternyata tindakan menghalangi kebenaran bukanlah hal yang baru. Lukas, penulis Kisah Para Rasul menceritakan bahwa Rasul Petrus dan Yohanes dihalang-halangi oleh mahkamah agama karena memberitakan kebenaran mengenai Yesus. Tindakan ini memang sungguh menyedihkan, karena yang menghalangi kebenaran adalah orang-orang yang berasal dari kalangan mahkamah agama. Mereka adalah orang-orang yang seharusnya menegakkan kebenaran. Meskipun mereka menghalangi Petrus dan Yohanes, namun keduanya mengambil sikap bijak. Mereka tetap bersikeras untuk memberitakan kebenaran. Mereka berkata, “Sebab tak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yang telah kami lihat dan kami dengar.” Tindakan yang dibuat oleh mereka mencerminkan iman mereka kepada Yesus. Mereka sungguh mewartakan kebenaran yang mereka lihat dan dengar dari Yesus.
Yesus sesudah kebangkitannya memerintahkan para murid-Nya dengan berkata, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada seluruh makhluk.” Injil yang dimaksud oleh Yesus tak lain daripada kebenaran itu sendiri. Itu berarti, kebenaran adalah hal yang diinginkan oleh Yesus untuk diwartakan dan ditegakan. Yesus ingin agar setiap orang yang telah mengimani-Nya mewartakan kebenaran kepada setiap orang. Yesus tidak ingin agar kebenaran disembunyikan dan dihalangi, namun justru harus diwartakan dalam kehidupan setiap hari.
Tindakan Yesus dan para murid serentak pula mengingatkan kita akan identitas diri kita sebagai pengikut-Nya. Identitas Kekristenan kita terletak pada sejauh mana kita mewartakan dan menegakkan kebenaran. Kita seharusnya menjadi aktor-aktor terdepan dalam penegakan kebenaran. Kita harus berani berkata dan bertindak benar, bahkan melawan berbagai macam tindakan yang bertujuan menghalangi kebenaran. Jangan takut untuk mewartakan kebenaran, sebab pemazmur telah mengatakan, pintu gerbang Tuhan akan terbuka bagi kita orang benar.
(Fr. Atus Mayabubun)











