“Perkataan Vs Tindakan”: Renungan, 5 April 2018

0
1849

Alkisah ada seorang anak yang mempunyai pergumulan dalam menjalani hidupnya. Pergumulan ini bukan datang dari dalam dirinya, melainkan datang dari orang-orang di sekitarnya. Orang sering memperbincangkan dirinya, saat ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya untuk meraih cita-citanya. Dari situ, anak itu menyadari bahwa apa yang menjadi keputusannya bukanlah suatu hal yang mudah. Butuh usaha, kerja keras, dan perjuangan. Tidak semudah orang membalikkan telapak tangan.

Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang kedua murid yang dalam perjalanan ke Emaus bercerita tentang pengalaman mereka kepada para murid yang lain. Bahwa mereka telah melihat Yesus yang menampakan diri kepada mereka. Tentu para murid yang lain tidak percaya begitu saja, tentang apa yang dikatakan kepada mereka. Mereka membutuhkan bukti agar apa yang dikatakan itu dapat diterima dan dipercaya. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal itu maka Yesus menampakkan diri kepada mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”. Para murid merasa terkejut, antara senang dan takut karena mereka berpikir bahwa mereka melihat hantu, maka Yesus berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut dan timbul keraguan di dalam hati kamu?”

Penampakan Yesus kepada murid yang lain merupakan sebuah tindakan yang Ia lakukan untuk membantu kedua murid yang bersaksi tentang Dia. Sebab mereka sungguh-sungguh telah melihat Yesus yang menampakkan diri kepada mereka. Hal ini dilakukan Yesus karena para murid membutuhkan bukti dan bukan perkataan dari orang lain yang bercerita tentang Dia. Tindakan yang dilakukan Yesus bukan hanya menampakkan diri, tetapi ia juga menunjukkan bahwa Ia adalah sama dengan sebelum Ia wafat, dimana Ia dapat makan.

Dewasa ini, orang-orang lebih mementingkan tindakan daripada perkataan. Percuma jika berkata dan tidak ada tindakan.  Mantan Menteri Keuangan Amerika Serikat, Denis Healey, pernah berkata, “Kekuatan seseorang bukan hanya kata-kata, karena kata-kata sama dengan wallpaper yang ada pada tembok di mana semuanya itu akan tergantikan dengan gambar yang lain jika orang sudah bosan memandang.”

Dalam hidup kita setiap hari, kita sering merasa bosan dan mungkin tidak percaya tentang kebenaran yang dikatakan orang lain. Kita membutuhkan bukti dan bukan sekedar kata-kata kosong. Yesus mau mengajarkan kepada kita bahwa jika kita berkata kita harus juga menyertainya dengan tindakan. Sudahkah kita demikian?

(Fr. Emanuel Paji Sopa)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini