“MENJADI SEJATI TANPA KEPALSUAN”: Renungan, Jumat 5 Januari 2024

0
1126

Hari biasa dalam Pekan Natal (P)

1Yoh. 3:11-21; Maz. 100:1B-2, 3, 4, 5; Yoh. 1:43-51

Bagi semua orang, menjadi sejati, tidak bermuka dua atau tidak bersikap palsu adalah sikap yang selalu diharapkan. Dalam satu hubungan atau relasi, sikap berpura-pura atau palsu adalah sikap yang dapat membuat hubungan menjadi retak, atau bahkan dapat membuat relasi itu usai. Kecewa, sakit hati, dan tidak percaya pada orang lain adalah reaksi yang ditimbulkan dari sikap berpura-pura.

Bacaan injil hari ini menunjukkan bagaimana kita dipanggil menjadi sejati dan tidak ada kepalsuan dalam diri. Natanael menunjukkan bagaimana kita seharusnya menjadi sejati. Perkataan Natanael pada Yesus yaitu “Rabi Engkau Anak Allah Engkau Raja Orang Israel”, setelah Yesus mengatakan bahwa Natanael-lah Orang Israel sejati yang tidak ada kepalsuan dalam dirinya, menandakan bagaimana Natanael sebagai orang Israel yang menantikan kedatangan Mesias, percaya bahwa Yesus-lah Mesias itu, Mesias yang datang untuk meyelamatkan. Memang, pada awalnya keraguan Natanael terlihat ketika Filipus berkata bahwa Mesias telah ditemukan, yakni dia yang datang dari Nazaret. Kata-kata ‘mungkinkah yang baik datang dari Nazaret’, menandakan keraguan dalam diri Natanael. Namun, setelah melihat Yesus, dengan yakin dan penuh iman Natanael berani berkata bahwa Yesuslah Raja orang Israel. Ungkapan yang memang menggambarkan iman dan kepercayaan Natanael, dan bukan ungkapan yang hanya menyenangkan hati saja.

Panggilan menjadi sejati menjadi satu dasar hidup kita. Perwujudannya nampak dalam hidup kita sebagai orang beriman. Menjalankan hidup dengan benar sebagai orang Kristen adalah perwujudan dari panggilan menjadi sejati. Kita dipanggil untuk tidak mendustai iman kita dengan hidup berpura-pura dan bermuka dua yang selalu kita bungkus dengan relasi yang tidak asli. Hal ini dapat membuat hubungan kita dengan Yesus menjadi pudar. Menjadi orang Kristen hanya karena dilihat orang, dan menjadi kafir ketika ada dalam lingkungan pribadi. Suasana Natal ini menunjukkan bagaimana Yesus datang ke dunia untuk menyelamatkan kita dari dosa, dan bukan datang dalam bingkai kepalsuan. Kita dapat bertanya dalam diri kita, apakah kita telah menjadi orang Kristen yang sejati, yang hidup tanpa kepalsuan dan kepura-puraan?

(Fr. Federicoh A. Karundeng)

“Kata Filipus kepadanya: ‘Mari dan lihatlah!’. Yesus melihat Natanael datang kepadaNya, lalu berkata tentang dia ‘Lihatlah inilah orang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya” (Yoh. 1:48)

Marilah berdoa:

Ya Tuhan, bantulah kami menjadi orang yang hidup tanpa kepura-puraan, agar kami menjadi ‘sejati’ dalam hidup. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini