Hari Biasa Masa Natal (P)
1Yoh. 5:5-13; Mzm. 147:12-13,14-15,19-20; Mrk. 1:7-11 atau Luk. 3:23-38
“Bagaikan padi, semakin berisi maka semakin merunduk”. Pepatah lama yang mungkin sudah diketahui oleh banyak orang. Nilai yang hendak diangkat dari pepatah diatas ialah kerendahan hati. Kerendahan hati hanya bisa dilaksanakan ketika seseorang memiliki ‘sesuatu’ di dalam dirinya. Namun sebaliknya jika seseorang tidak memiliki sesuatu yang berharga itu, maka ia pun tidak bisa merendahkan hati melainkan hanya berdiri tegak atau dengan kata lain menjadi sombong dan angkuh.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan tentang dua tokoh luar biasa yang dengan kesadaran, menunjukkan kepada kita keutamaan kerendahan hati. Mereka menunjukkan dengan baik kepada kita bahwa kerendahan hati itu bukan saja sebuah tindakan lahiriah tetapi juga sikap hati yang mau menghayati nilai tersebut. Yohanes Pembaptis mengakui bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa dibandingkan dengan Yesus. Inilah bentuk kerendahan hati yang tepat di hadapan Allah yakni mengakui kelemahan dan ketidakpantasan diri. Yesus pun yang merupakan Putera Allah yang Maha Tinggi yang tidak memiliki dosa dan mampu membaptis dengan Roh Kudus, justru turun ke dunia dan meminta Yohanes untuk membaptisNya dengan air. Inilah bentuk kerendahan hati yang sempurna karena ketaatan mereka berdua pada kehendak Bapa.
Kerendahan hati sering dilihat sebagai nilai kuno yang tidak relevan di zaman sekarang. Namun nyatanya kerendahan hati merupakan nilai yang menjadi dasar dalam membangun keyakinan dan citra diri yang sehat, serta menghantar kita pada pintu kesuksesan. Lebih dari itu, Firman hari ini menunjukkan bahwa dengan kerendahan hati keselamatan kita pun menjadi mungkin. Tuhan dan Yohanes telah menunjukkan teladan yang tepat akan hal tersebut.
Sebagai orang beriman tentu kita menggantungkan diri kepada Tuhan, artinya menemukan dan melaksanakan kehendak Tuhan yang sudah ditetapkan sejak awal dalam diri kita. Namun bukan hanya dari pihak Tuhan yang bekerja, tetapi sebagai makhluk lemah kita hendaknya memahami dengan benar diri kita, sehingga menjadi pegangan untuk melaksanakan kehendak Tuhan tersebut. Kerendahan hati bagi kita orang percaya bukanlah suatu kelemahan melainkan suatu kekuatan. Mengapa kekuatan? Karena kita mengenal betul potensi yang Tuhan tetapkan dalam diri kita, sehingga mampu mengendalikan diri agar bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan yang pada akhirnya mendatangkan keselamatan. Semakin kita memahami diri dan menyadari yang kita miliki, semakin kita sadar bahwa kita bukan apa-apa tanpa Tuhan.
(Fr. Harley Patty)
“Membungkuk dan membuka tali kasutNya pun aku tidak layak” (Mrk. 1:7)
Marilah berdoa:
Tuhan, ajarlah kami untuk rendah hati dan mau bersandar padaMu Amin.











