“Maria Immaculata: Maria Bunda Nirmala”: Renungan: Kamis 8 Desember 2022

0
1143

HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA  (P)

Kej. 3:9-15,20; Mzm. 98:1,2-3ab,3bc-4; Ef. 1:3-6,11-12; Luk. 1:26-38

Hari ini dengan penuh suka cita seluruh Gereja Merayakan Hari Raya Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa yang dinyatakan sebagai dogma Gereja oleh Paus Pius IX pada tanggal 8 Desember 1854 di Gereja Santa Maria Maggiore di Roma. Dogma itu menegaskan keyakinan umat beriman kristiani sejak berabad-abad lamanya bahwa Bunda Maria tidak mengenal dosa sejak di dalam kandungan ibunya. Allah telah mengecualikan Maria dari warisan dosa keturunan Adam mengingat rahmat yang akan diterimanya dari Roh Kudus karena Bunda Maria akan menjadi tempat lahirnya Yesus Kristus Juru Selamat manusia. Bunda Maria tetap suci dan tidak bercela selama hidupnya, dan ia juga tidak kena noda dosa sejak dalam kandungan yang dalam bahasa Latin diungkapkan dengan kata: Maria immaculata conceptionis (Maria dikandung tanpa noda dosa).

Dan berkat penebusan Kristus melalui sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya, kita semua juga ternyata dikehendaki oleh Allah untuk hidup suci dan tidak bernoda di dalam dunia ini supaya layak untuk bersatu dengan Kristus. “Sebab di dalam Dia, Allah telah memilih kita supaya kita kudus dan tidak bercela di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”(Ef. 1: 4-5).

Ternyata bukan hanya Bunda Maria saja yang dikehendaki oleh Allah untuk menjadi suci dan tidak bercela, melainkan kita semua juga yang telah dipanggil menjadi anak-anak-Nya supaya kita layak bersatu dengan Kristus, Sang Putera Allah. Kita adalah anak-anak Allah di dalam Sang Putera (Filii et filiae in Filio sumus), begitulah ungkapan dalam bahasa Latinnya indah, singkat dan padat. Namun bedanya kita semua dengan Bunda Maria adalah bahwa berkat rahmat istimewa di mana Maria penuh dengan Roh Kudus, maka Bunda Maria tidak mengenal noda dosa dan Ia tidak pernah berbuat dosa. Sedangkan kita semua adalah orang-orang berdosa yang sering berbuat dosa dan ada dalam pengaruh kuasa dosa yang membelenggu kita. Sedangkan Bunda Maria adalah sangat mirip dengan Sang Putera yang tidak mengenal dosa. Karena upah dosa adalah maut, maka semua orang keturunan Adam mengalami maut sebagai akibat dosa, kecuali Tuhan Yesus yang setelah wafat di salib, maka Ia bangkit pada hari ketiga. Karena tidak mungkin maut berkuasa atas-Nya. Demikian pula Bunda Maria yang tidak bernoda dan tidak mengenal dosa tidak mengalami kematian, melainkan diangkat ke surga badan dan jiwanya.

Pengajaran iman ini benar-benar sangat logis, benar dan mudah dimengerti tentang hubungan dosa dan kematian. Dan supaya kita semua bisa dibebaskan dari kematian kekal, maka kita harus mohon rahmat Tuhan supaya ditolong untuk menjauhi dosa, tidak melakukan dosa dan berusaha untuk hidup baik dan menjadi suci sepanjang hidup kita setiap hari. Hal itu pastilah tidak mudah, namun begitu banyak orang terus berusaha untuk hidup baik bagi sesamanya dan berusaha setia dan taat kepada Tuhan. Itulah tanda-tanda orang yang ingin hidup suci dalam hidupnya dan dengan itu mereka menyiapkan diri untuk berjumpa dengan Allah dan hidup bersama-Nya selama-lamanya dalam kerajaan surga. Amin.

(Rm. Albertus Sujoko, MSC)

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”(Luk. 1:38).

Marilah berdoa:

Ya Allah, kiranya lewat bunda-Mu Perawan Maria, kami boleh  menjadi hamba-hamba yang patuh akan segala perintah-Mu dan mengusahakan kekudusan seperti Maria yang dikandung tanpa noda dosa. Amin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini