Hari Biasa Pekan II Adven (U)
Yes. 48:17-19; Mzm. 1:1-2,3,4,6; Mat. 11: 16-19
Dalam kehidupan manusia, kita seringkali tidak memperhitungkan kebaikan orang lain. Kita lebih suka meremehkan orang lain dan memandang rendah orang lain dengan sebelah mata, berlagak lebih benar dari orang lain dan menganggap orang lain tidak berarti sama sekali. Segala sesuatu yang dilakukan oleh orang lain dianggap salah, padahal ada perkataan dan perbuatan baik yang pernah dilakukannya. Maka dari itu, tak jarang kita menjuluki orang lain dengan kemauan kita sendiri, tanpa memikirkan perasaan orang lain. Misalnya, kita meremehkan orang lain, karena orang itu miskin dan tidak memiliki apa-apa dan lain sebagainya.
Injil hari ini memperlihatkan sikap Yesus terhadap orang-orang berdosa. Ia makan dan minum bersama-sama dengan orang berdosa, bahkan bersahabat dengan mereka. Jika kita bertanya-tanya, apakah perbuatan Yesus itu salah? Tentunya tidak. Sebab perbuatan-Nya itu mengantar orang-orang berdosa untuk menyadari diri mereka akan perbuatan dosa, sehingga mereka dapat bertobat. Akan tetapi, apakah Yesus mendapat pujian? Tentunya tidak, karena menurut tradisi Yahudi, apabila seseorang makan dan minum atau bergaul dengan orang berdosa, maka orang tersebut dianggap bersekutu dengan mereka dalam hal dosa. Oleh sebab itu, Yesus disebut sebagai orang berdosa dan dicap atau dijuluki sebagai seorang pelahap dan peminum serta sahabat pemungut cukai.
Yesus dijuluki sebagai seorang pelahap dan peminum; sahabat pemungut cukai dan orang berdosa, namun dalam posisi seperti itu, Ia tetap semangat dalam melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Hal itu sama sekali tidak menghilangkan sisi ke-Manusia-an dan ke-Allah-an Yesus Kristus. Sebab, hikmat Allah selalu dibenarkan oleh perbuatan-Nya yang sesuai dengan kehendak Bapa-Nya.
Dalam peradaban dunia saat ini, setiap orang berambisi menjadi yang terbaik. Entah dengan cara yang baik dan benar maupun sebaliknya. Terkadang banyak orang menggunakan cara yang tidak pantas untuk menjatuhkan dan menuduh oang lain. Akhirnya pihak yang satu dituduh dan dijuluki secara tidak terpuji. Yesus juga mengalami hal yang sama seperti yang kita alami. Akan tetapi, Yesus hendak menunjukkan kepada kita untuk tetap setia dalam melaksanakan kehendak Bapa-Nya. Oleh sebab itu, pelaksanaan kehendak Bapa-Nya menjadi bentuk karya nyata dari ketaatan dan kesetiaan kita terhadap-Nya.
(By: Fr. Liberatus Lamere)
“Hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya!” (Mat. 11:19).
Marilah berdoa:
Ya Tuhan, mampukanlah kami untuk tetap setia dalam melaksanakan segala kehendak-Mu. Amin











