Kematian merupakan suatu peristiwa yang pasti terjadi dalam hidup manusia. Tidak ada seorang pun yang dapat luput dari padanya. Bahkan, Yesus pun yang adalah Allah yang telah menjadi manusia turut mengalami hal itu. Melalui kisah sengsara yang telah kita dengarkan tadi terungkap dengan sangat jelas saat-saat ketika Yesus hendak mengalami peristiwa kematian itu. Sungguh sangat mengerikan detik-detik kematian- Nya. Sebelum wafat-Nya, Ia mengalami kesengsaraan yang luar biasa. Ia dipaksa untuk memikul salib yang berat, Ia ditelanjangi, disiksa, diludahi, dimahkotai duri dan dipaku serta digantung pada kayu salib.
Lalu, apakah Yesus kalah dan semuanya berakhir pada kayu salib? Tidak. Yesus tidak kalah dan kematian-Nya di kayu salib bukanlah akhir dari segala-galanya. Tetapi sebaliknya, Yesus telah menang dan kematian- Nya membuahkan kehidupan. Dengan kata lain, pengorbanan Yesus di salib mendatangkan keselamatan bagi manusia. Perlu diingat bahwa dosa-dosa kitalah yang menyebabkan Ia menderita dan wafat. Dalam kitab Yesaya telah dicatat, “Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikulnya,..”(Yes 53:4). Itu artinya bahwa Ia begitu solider dengan kita. Ia turut merasakan kelemahan kita agar kita dapat memperoleh kekuatan dan hidup yang kekal. “Sebab, Dia bukanlah imam agung yang tidak dapat turut merasakan kelemahan kita! Sebaliknya Ia sama dengan kita! Ia telah dicobai, hanya saja tidak berbuat dosa. Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut; dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan.” (Ibr 4:14; 5:7).
Dengan demikian, Yesus sungguh-sungguh Sang Sabda yang telah menjadi manusia dan tinggal di tengah-tengah kita. Penderitaan dan wafat-Nya di salib menunjukkan ketaatan-Nya pada kehendak Bapa dan terlebih mengungkapkan cinta-Nya yang besar bagi manusia. Ingatlah bahwa kematian-Nya bukanlah akhir dari segala-galanya, melainkan awal dari hidup yang baru, yakni keselamatan kekal bagi manusia. Inilah inti dari iman kita. Dalam credo kita ungkapkan dengan lantang bahwa kita percaya akan Yesus Kristus, yang dikandung oleh Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, wafat dan dimakamkan; yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati; yang naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang mahakuasa; dari situ Ia akan datang mengadili orang hidup dan yang mati. Inilah ungkapan iman yang harus kita hidupi, sehingga keselamatan menjadi milik kita. Amin.
(Fr. Wayan Sugiarta)











