Hari ini Gereja Universal merayakan hari Kamis Putih, Peringatan Perjamuan Tuhan. Pada hari inilah kita merayakan pula penetapan dua sakramen penting dalam Gereja.
Pertama, Sakramen Ekaristi. Yesus makan bersama para murid-Nya. Inilah saat ketika Yesus mengorbankan Diri-Nya. Yesus berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku”. Inilah waktu dimana Yesus memberikan tubuh dan darah-Nya, makanan rohani, sumber kehidupan bagi para murid-Nya. Yesus berkata, “Inilah darahKu,… Ambillah dan minumlah”. Dalam Im. 3:17; 7:26, kita membaca larangan minum darah. Karena darah adalah identik dengan kehidupan, dan kehidupan adalah milik Allah. Tetapi apa yang menjadi milik Allah sekarang diberikan pula kepada para murid-Nya. Di sinilah terlihat jelas bahwa makanan yang kita sambut sungguh adalah santapan ilahi, roti para malaikat dan minuman surgawi.
Kedua, Sakramen Imamat. Inilah sakramen pelayanan. Pertama-tama untuk melayani, merayakan Sakramen Ekaristi, dan menghadirkan Kristus dalam perayaan sakramen-sakramen Gereja. Di Gereja-gereja Katedral, biasanya Uskup merayakan Misa Krisma (memberkati minyak-minyak suci) dan para imam membuat pembaruan janji imamat.
Yesus memberikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai makanan bagi kita. Inilah pemberian Yesus, Sang Pelayan, yang sejati. Yesus juga menunjukkan teladan bagaimana menjadi pelayan dengan membasuh kaki para Rasul-Nya. Yesus sendiri berkata, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh. 13:13-15). Inilah teladan tak terkira dari Yesus, Sang Pelayan yang sempurna.
Betapa Yesus mengharapkan supaya Tubuh dan Darah-Nya, yang kita sambut memberikan kita kekuatan untuk saling mencintai dan menjadi pelayan satu kepada yang lain. Itulah sebabnya, Perayaan Ekaristi memang menjadi puncak dan sumber kehidupan Gereja. Dari Ekaristi mengalir kekuatan cinta dan pelayanan Yesus. Dari Ekaristi pula umat beriman menimba kekuatan baru dan senantiasa segar untuk mencintai dan melayani sesama. Begitu pula, segala suka dan duka, pergumulan dan pujian dibawa dalam Perayaan Ekaristi. Perayaan hari ini memang mesti membaharui pemahaman, sikap, dan tindakan kita dalam merayakan Ekaristi.
(P. Ventje Felix Runtulalo, Pr)











